— Harga Bitcoin (BTC) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dunia, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), serta memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi ini mendorong aksi jual di pasar aset berisiko, termasuk aset kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global dilaporkan jatuh 1,91% menjadi US$ 2,21 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) sendiri ambles 2,05% ke level US$ 64.833,08 per koin. Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, terpangkas 1,85%. Ethereum turut jatuh lebih dalam sebesar 3,92% ke US$ 1.860, sementara Binance (BNB) melemah 0,89% ke US$ 566.

Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan dan turun di bawah level psikologis US$ 65.000. Tekanan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan meminta Iran bertanggung jawab atas serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial Arab Saudi. Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap aksi Houthi yang kembali mengganggu jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Sentimen negatif tersebut turut memicu pelemahan pasar saham global. Indeks S&P 500 turun 1,2%, sementara Nasdaq Composite merosot 2,2% pada penutupan perdagangan di New York. Bersamaan dengan itu, harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS terus menunjukkan tren kenaikan.

Lembaga riset pasar The Kobeissi Letter menilai lonjakan harga minyak kembali memicu kenaikan ekspektasi inflasi dan suku bunga. “Ekspektasi inflasi dan suku bunga kembali meningkat tajam,” tulis The Kobeissi Letter dalam unggahannya di platform X.

Menjelang rapat kebijakan The Fed, data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang meningkat hingga mendekati 40%, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 12% sepekan lalu.

Prospek Bitcoin

The Kobeissi Letter juga mencatat bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan terakhir, yang mengindikasikan tekanan baru terhadap kondisi keuangan global.

Di tengah meningkatnya tekanan pasar, para analis dan pelaku pasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai prospek Bitcoin dalam jangka pendek. Analis kripto dengan akun Exitpump memperkirakan reli Bitcoin sepanjang Juli mulai kehilangan tenaganya. “Reli Juli mulai berakhir. Harga berada di area resistensi. Tutup posisi beli dan pertimbangkan posisi jual jika harga turun di bawah US$ 65.000,” tulisnya.

Berbeda dengan pandangan tersebut, analis kripto Jelle menilai Bitcoin masih menunjukkan perkembangan positif dan berpeluang melanjutkan kenaikan apabila mampu menembus area resistensi saat ini. Menurutnya, jika hambatan tersebut berhasil dilewati, peluang kenaikan menuju US$ 70.000 akan terbuka cukup cepat.

Sementara itu, analis kripto Michaël van de Poppe menilai level US$ 64.073, yang berdekatan dengan rata-rata pergerakan sederhana (simple moving average/SMA) 21 pekan, menjadi area penting yang harus dipertahankan. Menurut dia, selama Bitcoin masih bertahan di atas level tersebut, prospek kenaikan harga tetap terbuka. Van de Poppe juga menilai tantangan terbesar saat ini adalah menembus area resistensi di sekitar US$ 68.000. Apabila level tersebut berhasil dilewati, Bitcoin berpotensi melanjutkan reli hingga US$ 73.000.