— Sejumlah bank digital memilih strategi memperkuat bisnis ritel, memperluas ekosistem digital, dan menjaga kualitas aset untuk mempertahankan kinerja hingga akhir 2026. Langkah ini diambil di tengah tantangan likuiditas yang semakin mahal akibat tren suku bunga yang tinggi.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) memproyeksikan semester II-2026 masih menyimpan peluang pertumbuhan. Namun, ekspansi yang dilakukan akan lebih selektif dengan mengutamakan profitabilitas dibandingkan sekadar mengejar volume kredit.

Direktur Utama BNC Eri Budiono mengungkapkan, perseroan menargetkan pertumbuhan laba sekitar 7% hingga akhir tahun. Target ini akan dicapai melalui perluasan pembiayaan ritel yang memiliki imbal hasil lebih tinggi, serta pengendalian biaya dana dan kualitas aset. “Kalau kami bisa menjaga momentum ini dan kualitas aset tetap terjaga, mudah-mudahan pertumbuhan sekitar 7% bisa kami teruskan sampai akhir tahun,” ujar Eri.

Eri menjelaskan, BNC mengalihkan fokus pembiayaan dari korporasi ke segmen ritel dan konsumer karena menawarkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi. Kredit korporasi rata-rata menghasilkan imbal hasil sekitar 12-13%, sedangkan kredit ritel bisa lebih tinggi. Strategi ini berhasil memperlebar net interest margin (NIM), namun pertumbuhan kredit belum sepenuhnya optimal. Hal ini disebabkan penurunan pembiayaan korporasi bernilai besar tidak mudah digantikan oleh kredit ritel yang rata-rata hanya sekitar Rp3 juta per debitur.

BNC juga memilih berhati-hati dalam ekspansi dengan memprioritaskan optimalisasi nasabah eksisting dibanding mengejar akuisisi nasabah baru demi menjaga kualitas portofolio kredit. Di sisi pendanaan, Eri mengakui likuiditas industri yang semakin ketat membuat persaingan deposito meningkat.

Eri menambahkan, BNC telah mengurangi deposito yang berbunga tinggi. Berbeda dengan bank lain yang menaikkan bunga deposito, BNC justru memangkasnya demi menekan biaya dana. Ke depan, BBYB memilih tidak mengikuti kenaikan bunga deposito secara agresif agar biaya dana tetap terkendali. Perseroan menargetkan rasio dana murah (CASA) berada di kisaran 30% hingga akhir tahun. “CASA sampai akhir tahun 30%, saya rasa itu cukup sehat,” ucap dia.

Selain itu, BNC menyiapkan sumber pertumbuhan baru melalui peluncuran produk bancassurance bersama Chubb dan pengembangan layanan buy now pay later (BNPL). Meskipun kontribusinya terhadap laba tahun ini diperkirakan masih terbatas karena masih dalam tahap pilot project.

Prospek Bank Digital di Tengah Suku Bunga Tinggi

Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai prospek bank digital pada semester II-2026 diperkirakan masih dibayangi tingginya biaya dana seiring bertahannya suku bunga di level tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan utama bank digital dalam menjaga profitabilitas di tengah persaingan penghimpunan dana.

Nafan mengatakan, rezim suku bunga tinggi membuat bank digital menghadapi dilema antara menjaga likuiditas dan mempertahankan NIM. “Isu cost of fund (CoF) akibat rezim suku bunga tinggi memang menjadi tantangan utama bagi industri perbankan nasional, khususnya segmen bank digital,” kata Nafan.

Menurut Nafan, bank digital dituntut menjaga likuiditas dengan menawarkan suku bunga simpanan yang kompetitif. Di sisi lain, hal tersebut menekan net interest margin (NIM) jika tidak diimbangi dengan efisiensi operasional dan penyaluran kredit yang berkualitas.

“Untuk menarik nasabah baru, bank digital sempat mengandalkan deposito berjangka dengan kupon tinggi. Di era suku bunga acuan yang stay higher for longer, strategi ini membebani cost of fund,” tutur dia.

Nafan menjelaskan, strategi tersebut kini menjadi lebih mahal karena suku bunga acuan bertahan tinggi lebih lama. Akibatnya, kemampuan bank digital menjaga profitabilitas akan sangat bergantung pada keberhasilan menurunkan biaya operasional, meningkatkan proporsi dana murah (CASA), serta mengalihkan portofolio kredit ke segmen dengan imbal hasil yang lebih tinggi tanpa mengorbankan kualitas aset.

Nafan mengingatkan investor untuk mencermati perkembangan kinerja industri pada paruh kedua tahun ini mengingat tantangan likuiditas belum mereda dan persaingan penghimpunan dana diperkirakan masih ketat. Dari sisi investasi, Nafan masih merekomendasikan sikap wait and see terhadap sejumlah saham bank digital hingga terdapat kepastian perbaikan fundamental dan penurunan tekanan biaya dana.

“ARTO, BBYB, BBHI, dan SUPA rekomendasinya adalah wait and see,” ucap Nafan.

Transformasi Digital Bank Raya dan Allo Bank

Secara terpisah, Bank Raya (AGRO) tetap mengandalkan transformasi digital sebagai mesin pertumbuhan hingga akhir tahun. Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan, fokus perseroan adalah memperkuat inovasi layanan digital, meningkatkan kualitas aset, dan memperluas ekosistem pembiayaan digital.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat inovasi produk dan layanan digital, menjaga kualitas aset, serta menghadirkan solusi keuangan yang relevan agar dapat memberikan nilai tambah bagi nasabah sekaligus menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” katanya.

Strategi tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit digital yang mencapai Rp16,46 triliun atau naik 22,6% secara tahunan hingga Juni 2026, dengan outstanding kredit digital sebesar Rp3,17 triliun. Kontributor terbesar masih berasal dari Pinang Dana Talangan yang menyasar Agen BRILink dan Agen Gadai. Penyaluran produk tersebut mencapai Rp14,67 triliun atau tumbuh 29,1% (yoy).

Di sisi pendanaan, Bank Raya mencatatkan pertumbuhan digital saving sebesar 66,4% menjadi Rp2,47 triliun. Kenaikan transaksi pada aplikasi Raya sebesar 41,2% turut mendorong rasio CASA meningkat menjadi 38,09%.

Untuk memperkuat keterikatan nasabah dengan ekosistem digital, Bank Raya meluncurkan fitur Raya Active yang mengintegrasikan aktivitas olahraga dengan kebiasaan menabung otomatis. Perseroan juga masih memiliki ruang ekspansi yang besar, didukung rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 40,8% dan kondisi likuiditas yang kuat.

Di sisi lain, Allo Bank memadukan strategi penguatan bisnis digital ritel dengan ekspansi pembiayaan korporasi sebagai penopang pertumbuhan pada semester II. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Allo Bank Ari Yanuanto Asah mengatakan, perseroan akan terus meningkatkan pengalaman pengguna melalui inovasi teknologi serta memperluas integrasi layanan keuangan dalam ekosistem mitra.

“Sepanjang sisa tahun 2026, kami akan terus mendorong pertumbuhan bisnis melalui inovasi teknologi dan integrasi layanan keuangan dengan ekosistem mitra,” jelas Ari.