Detak Media — Industri kripto dan ekosistem blockchain di Indonesia didorong untuk segera bersiap menghadapi era baru komputasi kuantum. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi ini dianggap krusial demi menjaga ketahanan sistem keamanan digital dan membangun fondasi ekosistem yang lebih matang di masa depan.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menekankan bahwa komputer kuantum menjadi fokus strategis yang perlu dipahami oleh para pelaku industri. Potensi ancaman teknologi kuantum terhadap sistem kriptografi dan infrastruktur blockchain menjadi perhatian utama jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Pembahasan mengenai quantum computing perlu dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem blockchain yang semakin matang dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan,” ujar Aloysia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Tantangan Keamanan dan Peluang Inovasi
Aloysia menjelaskan bahwa meskipun komputer kuantum masih dalam tahap riset dan pengembangan, potensinya untuk meretas sistem kriptografi yang saat ini digunakan untuk mengamankan aset digital telah menarik perhatian komunitas global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi ini belum menjadi ancaman langsung dalam waktu dekat.
Di sisi lain, komputer kuantum juga membuka peluang besar untuk mempercepat proses komputasi yang kompleks, sehingga dapat mendorong lahirnya berbagai inovasi baru di sektor keuangan digital.
Selama satu dekade terakhir, jaringan seperti Ethereum telah menjadi fondasi utama bagi berbagai inovasi Web3, mulai dari decentralized finance (DeFi), NFT, hingga tokenisasi aset. Seiring berjalannya waktu, standar keamanan dan infrastruktur blockchain dituntut untuk terus ditingkatkan agar tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset, pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna,” tambah Aloysia.
Untuk mendorong literasi dan kolaborasi tersebut, Indodax menggelar forum bertajuk “ETH Genesis: Quantum Leap”. Forum ini menjadi wadah diskusi bagi para pelaku industri untuk membahas implikasi komputasi kuantum, penguatan sistem keamanan, serta pentingnya riset jangka panjang.
Aloysia berharap diskusi publik mengenai aset kripto tidak hanya berfokus pada dinamika harga harian, tetapi juga mampu memperluas pemahaman masyarakat terhadap fondasi teknologi dan sistem keamanannya.
Teknologi blockchain dan aset kripto mengandalkan enkripsi kriptografi asymmetric (seperti algoritma ECDSA pada Bitcoin dan Ethereum) untuk mengamankan kunci privat (private keys) serta mengesahkan transaksi pengguna. Komputer konvensional membutuhkan waktu jutaan tahun untuk meretas algoritma enkripsi ini.
Namun, komputer kuantum (quantum computer) yang memanfaatkan prinsip mekanika kuantum diprediksi mampu memproses perhitungan kompleks ribuan kali lebih cepat melalui algoritma khusus seperti Shor’s Algorithm.
Jika komputer kuantum mencapai tingkat kematangan teknis tertentu (quantum supremacy), teknologi ini berpotensi memecahkan kunci kriptografi standar yang digunakan saat ini.
Untuk mengantisipasi potensi risiko tersebut, komunitas blockchain dan ahli siber global kini tengah gencar mengembangkan Post-Quantum Cryptography (PQC), sebuah sistem enkripsi baru yang dirancang khusus agar kebal dari serangan komputer kuantum di masa depan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.