— Prospek harga emas dalam jangka pendek masih menghadapi tekanan. Analis menilai logam mulia ini berpotensi melanjutkan pelemahan setelah gagal menembus level resistance penting. Kombinasi sinyal teknikal bearish, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi penghambat kenaikan harga.

Saat berita ditulis, harga emas tercatat menguat 0,69% ke level US$ 4.070,68 per ons troi.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas pada grafik harian masih menunjukkan kecenderungan bearish. Kegagalan harga bertahan di atas level resistance US$ 4.104 per ons troi mengindikasikan tekanan beli belum cukup kuat untuk mengakhiri dominasi pelaku pasar yang masih melakukan aksi jual.

“Selama harga masih bergerak di bawah resistance tersebut, peluang koreksi masih lebih dominan,” ujar Geraldo dalam risetnya, Senin (3/8/2026).

Geraldo menambahkan, tekanan terhadap harga emas diperkuat oleh terbentuknya pola candlestick Bearish Engulfing. Pola ini secara teknikal kerap menjadi sinyal pembalikan arah ke bawah setelah reli gagal berlanjut. Pola tersebut muncul berdekatan dengan area resistance, menunjukkan mulai meningkatnya aksi ambil untung oleh pelaku pasar.

Selain itu, indikator Stochastic juga masih bergerak menurun, menandakan momentum bearish belum mereda dan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli.

Berdasarkan proyeksi teknikal, area US$ 4.010 per ons troi menjadi target pelemahan terdekat sekaligus support penting yang akan menentukan arah pergerakan emas berikutnya. “Selama resistance US$ 4.104 per ons troi belum berhasil ditembus, target penurunan menuju US$ 4.010 per ons troi masih menjadi skenario utama,” jelas Geraldo.

Namun, Geraldo tidak menutup peluang terjadinya technical rebound apabila muncul respons beli yang kuat di area support tersebut. Kenaikan baru dapat dianggap valid apabila disertai perubahan struktur harga dan peningkatan volume transaksi.

Menanti Data Ekonomi AS

Selain faktor teknikal, arah harga emas juga masih dipengaruhi perkembangan fundamental, terutama pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield).

Geraldo menjelaskan, selama dolar AS tetap menguat dan imbal hasil obligasi bertahan di level tinggi, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung berkurang. Investor lebih memilih instrumen yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi.

Perhatian pasar pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS, mulai dari inflasi, pasar tenaga kerja, hingga pernyataan para pejabat The Fed. Rangkaian data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.

“Jika data ekonomi kembali menunjukkan ketahanan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama berpotensi menguat, sehingga menopang dolar AS dan kembali menekan harga emas,” tambah Geraldo.

Sebaliknya, jika data ekonomi mulai melambat dan tekanan inflasi mereda, harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi, yang bisa menjadi katalis positif bagi harga emas.

Perkembangan geopolitik juga tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian global sewaktu-waktu dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven dan membatasi tekanan jual pada emas.

“Secara keseluruhan, kami mempertahankan pandangan bearish terhadap emas. Selama harga belum mampu menembus resistance US$ 4.104 per ons troi, peluang pelemahan menuju US$ 4.010 per ons troi dinilai masih lebih besar dibandingkan potensi penguatan,” tutup Geraldo.