— Harga Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$ 63.600 pada Selasa, 4 Agustus 2026, di tengah kekhawatiran para analis mengenai potensi penurunan menuju US$ 50.000.

Analis memperingatkan bahwa penurunan besar Bitcoin di tahun 2026 kerap kali beriringan dengan upaya Jepang untuk mempertahankan nilai tukar yen. Fenomena ini terlihat jelas pada grafik yang menunjukkan korelasi antara koreksi harga BTC dengan pertahanan nilai yen Jepang.

Fenomena yang disebut ‘yen carry trade’ terjadi ketika investor meminjam yen dengan suku bunga rendah untuk kemudian diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi, termasuk aset kripto. Analis populer, Crypto Rover, menampilkan perbandingan grafik BTC/USDT dengan pasangan USD/JPY, yang secara langsung menandai hubungan antara pergerakan kedua grafik tersebut dengan penurunan harga Bitcoin.

Data historis menunjukkan bahwa pada akhir Januari hingga pertengahan Februari, Bitcoin mengalami penurunan 35,43% bersamaan dengan pergerakan signifikan pada pasangan mata uang USD/JPY. Pola serupa terulang dari akhir April hingga 10 Juni, di mana harga Bitcoin terkoreksi 26,28%, termasuk penurunan 9,34% di antaranya, yang juga selaras dengan sinyal intervensi yen.

Tekanan bearish baru pada Bitcoin terjadi di akhir Juli saat yen mendekati posisi terendah 40 tahun terhadap dolar AS, yaitu di kisaran 164 per dolar. Beberapa hari kemudian, kedua pemerintah secara resmi mengonfirmasi adanya intervensi pembelian yen secara terkoordinasi pada Jumat lalu. Skala intervensi ini dilaporkan sangat besar, dengan Jepang dikabarkan menghabiskan sekitar US$ 59 miliar, menurut data Bank of Japan. Ini merupakan pembelian yen bersama antara Tokyo dan Washington pertama sejak tahun 1998.

Pandangan bearish ini turut didukung oleh analis lain, Ted Pillows, yang pada 2 Agustus menyatakan bahwa harga US$ 50.000 bisa tercapai jika ‘CLARITY Act’ gagal dan carry trade dibuka secara paksa. Ted menyoroti bahwa Bank of Japan menghabiskan hampir US$ 32 miliar hanya dalam satu minggu terakhir.

Namun, tidak semua pihak memiliki pandangan pesimistis. Michaël van de Poppe menyebut grafik yen sebagai indikator terpenting untuk diamati. Ia berargumen bahwa kerja sama kedua pemerintah untuk menguatkan nilai tukar yen menciptakan situasi yang berbeda bagi para pemegang dolar. Jika dolar terus melemah sementara yen menguat, memegang dolar justru menjadi lebih berisiko.

Perubahan ini berpotensi mendorong modal keluar dari obligasi pemerintah dan mengalir ke aset berisiko, di mana Bitcoin akan menjadi salah satu penerima utama. Van de Poppe telah mengantisipasi kondisi ini sebelumnya dan menulis bahwa reli bullish Bitcoin akan dimulai apabila skenario tersebut terjadi. “Dump hari Senin sedang terjadi pada #Bitcoin. Mungkin kita akan turun sedikit lagi, lalu harga akan kembali naik,” komentarnya di platform X.

Saat ini, Bitcoin sempat turun di bawah US$ 63.000 pada sesi sebelumnya dan masih berada sekitar 50% di bawah rekor tertingginya pada US$ 126.198 yang tercatat pada Oktober 2025. Debat mengenai arah pasar kripto semakin jelas, dengan Crypto Rover bersikap bearish, Ted memprediksi pembalikan cepat menuju US$ 50.000, sementara Van de Poppe melihat potensi penguatan yen yang diiringi pelemahan dolar akan mengarahkan likuiditas masuk ke Bitcoin.

Pasar saat ini memilih untuk bersikap waspada. Arah selanjutnya Bitcoin kemungkinan akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan sejauh mana penguatan yen terjadi.