— JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR) merilis laporan keuangan semester I-2026 yang menunjukkan potret kinerja kurang menggembirakan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Perusahaan alat berat Grup Astra ini menghadapi tantangan signifikan dalam enam bulan pertama tahun ini.

Pendapatan bersih UNTR tercatat sebesar Rp58,3 triliun, mengalami penurunan 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp68,5 triliun. Melemahnya pendapatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penjualan emas PT Agincourt Resources (PTAR) yang menurun, serta kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara yang terpengaruh oleh alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Secara laba bersih, UNTR membukukan Rp4,3 triliun, sebuah penurunan tajam sebesar 48% secara tahunan (year-on-year/YoY), tidak termasuk pos non-berulang. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh penjualan emas dari Tambang Emas Martabe yang sempat menghentikan operasional sementara, meskipun tambang tersebut telah kembali beroperasi pada kuartal II-2026.

Periode semester I-2026 juga diwarnai oleh pos non-berulang senilai Rp3,3 triliun. Angka ini timbul dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate.

Di segmen alat berat, penjualan Komatsu menurun 27% menjadi 1.994 unit. Penurunan ini terutama didorong oleh melemahnya permintaan alat berat berkapasitas besar di sektor pertambangan. Akibatnya, pendapatan segmen alat berat terkoreksi 28% menjadi Rp15 triliun, meskipun penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan menunjukkan sedikit peningkatan menjadi Rp5,5 triliun.

Berbeda dengan segmen alat berat, sektor kontraktor pertambangan yang dikelola oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 4% menjadi Rp27,2 triliun. Pertumbuhan ini sebagian besar didukung oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.

Namun, volume pemindahan tanah di segmen ini terkikis 10% menjadi 481 juta bcm, dan produksi batu bara klien turun 3% menjadi 67 juta ton. Penyesuaian target produksi berdasarkan RKAB menjadi penyebab utama penurunan ini.

Pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi juga mengalami koreksi 4% menjadi Rp12,9 triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan volume penjualan batu bara sebesar 10% menjadi 6 juta ton.

Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mengalami penurunan paling drastis. Pendapatan anjlok 66% menjadi Rp2,4 triliun. Penjualan emas merosot 82% menjadi sekitar 23 ribu ons setara emas, jauh dari 125 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.

Hingga 30 Juni 2026, United Tractors membukukan utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Posisi ini berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025. Perubahan ini dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan tambang emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham.

Perseroan juga melanjutkan aksi korporasi dengan program pembelian kembali (buyback) saham tahap keempat senilai maksimal Rp2 triliun hingga 30 September 2026. Secara kumulatif, UNTR telah membeli kembali 237 juta saham senilai sekitar Rp7,1 triliun sejak program buyback dimulai pada 2022. Manajemen menyatakan langkah ini mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan sekaligus mendukung stabilitas pasar modal.