— JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengumumkan rencana strategis untuk memisahkan segmen usaha wholesale fiber connectivity tahap kedua. Langkah ini melibatkan pengalihan aset kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau yang dikenal sebagai Infranexia, dengan nilai transaksi mencapai Rp 49,85 triliun.

Untuk merealisasikan rencana ini, Telkom akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September 2026 guna mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham.

Direksi Telkom menjelaskan bahwa pengalihan segmen usaha wholesale fiber connectivity kepada TIF akan dilakukan melalui mekanisme pemisahan tidak murni atau spin-off. Sebagai kompensasi, TIF akan menerbitkan saham baru yang akan diambil bagian oleh Telkom. TIF sendiri merupakan anak usaha Telkom yang mayoritas sahamnya, sebesar 99,9%, dimiliki oleh Telkom.

“Objek transaksi beserta seluruh hak dan kewajiban yang melekat pada perseroan akan dialihkan kepada TIF dalam keadaan bebas dari pembebanan, berlaku efektif sejak tanggal efektif, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar direksi TLKM dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Direksi Telkom Indonesia menegaskan bahwa transaksi ini tidak melibatkan pembayaran tunai atau dilakukan atas dasar non-cash basis. Nilai segmen usaha wholesale fiber connectivity yang akan dipisahkan adalah sebesar Rp 49,85 triliun. Sebagai imbalannya, TIF akan menerbitkan 498.580.000 saham baru kepada TLKM dengan nilai konversi per saham sebesar Rp 100.000.

Saham baru yang diterbitkan TIF dan diambil bagian oleh Telkom akan bebas dari segala pembebanan. Saham tersebut akan disetor penuh melalui pemisahan objek transaksi dan memiliki seluruh hak yang melekat, termasuk hak suara, dividen, dan pengembalian modal. Saham ini akan memiliki kedudukan yang sama (pari passu) dengan saham TIF lainnya sesuai dengan anggaran dasar perusahaan.

Setelah seluruh transaksi pemisahan selesai dilaksanakan, komposisi kepemilikan saham Telkom di TIF akan meningkat menjadi 99,9999999%, sementara kepemilikan PT Multimedia Nusantara di TIF akan menyisakan 0,0000001%.

“Rencana transaksi ini tidak akan mengakibatkan perubahan pada kepemilikan saham para pemegang saham perseroan yang ada saat ini,” terang direksi Telkom.

Direksi TLKM menyatakan bahwa rencana transaksi ini merupakan langkah strategis yang sejalan dengan tren global di industri telekomunikasi. Banyak operator besar dunia telah membentuk entitas infrastruktur tersendiri untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, serta menciptakan nilai jangka panjang.

Sebagai contoh, operator terkemuka di dunia seperti Telstra dari Australia, Telecom Italia (TIM) dari Italia, dan CETIN dari Republik Ceko telah berhasil meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat valuasi, serta mengembangkan kemitraan strategis melalui inisiatif serupa.

Direksi TLKM menambahkan bahwa studi kasus menunjukkan pemisahan aset serat optik dari perusahaan telekomunikasi terintegrasi dapat menghasilkan peningkatan nilai yang signifikan. Hal ini memungkinkan operator untuk mengoptimalkan nilai intrinsik aset infrastruktur, menarik investor strategis, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan dalam ekosistem konektivitas digital.

“Transformasi ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada pengembangan segmen usaha wholesale fiber connectivity sekaligus memperkuat daya saing di pasar global,” papar direksi TLKM.