— Nyon – UEFA mengumumkan ancaman boikot terhadap lima turnamen yang digarap oleh FIFA. Langkah ini diambil sebagai bentuk kekecewaan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang dinilai tidak memenuhi syarat yang diajukan oleh asosiasi anggota UEFA.

Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan bahwa syarat utama untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi FIFA belum terpenuhi. Syarat tersebut mencakup penarikan usulan penjualan saham kompetisi utama FIFA kepada investor swasta dan jaminan bahwa upaya serupa yang merusak citra sepak bola tidak akan terulang kembali.

“Asosiasi-asosiasi anggota UEFA telah sangat jelas mengenai syarat-syarat yang melekat pada keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi FIFA,” tulis UEFA, mengutip laporan dari Sky Sports. “Pertama, usulan untuk menjual kompetisi-kompetisi utama harus ditarik kembali, dan kedua, harus ada jaminan upaya-upaya semacam itu untuk merusak citra sepak bola dengan cara ini tidak akan pernah dilakukan lagi.”

UEFA juga menyatakan bahwa posisi mereka mengenai hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino tetap berlaku. Pengumuman terbaru mengenai dukungan beberapa individu yang bekerja di bawah Presiden FIFA tidak mengubah sikap asosiasi Eropa tersebut.

Kelima ajang FIFA yang terancam diboikot oleh UEFA itu dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Agenda terdekat adalah Piala Dunia Putri U-20 di Polandia pada September mendatang.

Selanjutnya, Piala Dunia Putri U-17 akan diselenggarakan di Maroko pada Oktober. Di akhir tahun ini, Piala Dunia Putra U-17 akan digelar di Qatar.

Dua turnamen lainnya dijadwalkan pada tahun depan, yaitu Piala Dunia Antarklub Putri dan Piala Dunia Putri.

Sikap boikot ini merupakan respons UEFA terhadap FIFA yang mengklaim Infantino masih mendapat kepercayaan untuk memimpin organisasi tersebut. Klaim ini muncul setelah Infantino menggelar rapat darurat di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat.

Pertemuan di Rabat tersebut berlangsung di tengah tekanan yang dihadapi Infantino. Pria asal Swiss itu sebelumnya didesak mundur akibat mengusulkan proyek penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta. Usulan ini menyebabkan Infantino kehilangan dukungan dari beberapa negara anggota, meskipun ia bertekad untuk maju kembali sebagai presiden FIFA untuk periode keempat tahun depan.

Setelah mengumpulkan para petingginya, Gianni Infantino dikabarkan mengakui kesalahannya terkait rencana penjualan saham Piala Dunia. Setelah menyampaikan permintaan maaf, Infantino disebut kembali mendapat kepercayaan dari pejabat senior untuk melanjutkan kepemimpinannya di FIFA.