Detak Media — JAKARTA – Transformasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi perusahaan tambang multi-komoditas mulai menunjukkan hasil positif. Selain mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan pada semester I-2026, langkah diversifikasi bisnis perusahaan dinilai mulai memberikan kontribusi terhadap prospek jangka panjang.
Analis OCBC Sekuritas, Devi Praharsa Anggoro, menilai capaian BUMI dengan kenaikan laba bersih yang mencapai 189% menjadi US$59 juta pada enam bulan pertama tahun ini bukan sekadar mencerminkan peningkatan laba, tetapi juga menjadi indikasi bahwa strategi transformasi perusahaan mulai berjalan sesuai arah yang ditetapkan.
Menurutnya, pertumbuhan pendapatan BUMI ditopang oleh kombinasi kenaikan produksi dan volume penjualan batu bara, harga jual yang masih bertahan pada level relatif tinggi, serta mulai tercerminnya kontribusi dari aset non-batu bara yang telah diakuisisi.
Di sisi lain, lonjakan laba perusahaan tidak hanya berasal dari pertumbuhan pendapatan. Devi menilai BUMI mampu menjaga disiplin biaya sehingga kenaikan beban operasional dapat ditekan dan tidak meningkat setinggi pertumbuhan pendapatan.
“Optimalisasi biaya menjadi faktor penting di balik peningkatan profitabilitas BUMI. Ini merupakan tantangan bagi industri pertambangan, terutama ketika harga minyak berada pada level tinggi, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen utama cash cost dalam aktivitas penambangan,” ujar Devi dikutip di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Kemampuan menjaga efisiensi tersebut membuat pertumbuhan laba jauh melampaui pertumbuhan pendapatan, sekaligus menunjukkan peningkatan efektivitas pengelolaan operasional perusahaan.
BUMI sendiri membukukan laba bersih sebesar US$59 juta pada periode Januari-Juni 2026, meningkat 189% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan tercatat naik 28% secara tahunan menjadi US$867 juta.
Devi menilai pencapaian tersebut juga memiliki makna strategis karena menunjukkan bahwa ketergantungan BUMI terhadap batu bara mulai berkurang seiring berkembangnya portofolio bisnis logam.
Optimisme itu diperkuat oleh perkembangan proyek tambang emas dan tembaga Wolfram di Queensland, Australia. Sebelumnya, BUMI mengungkapkan pengembangan tambang tersebut berjalan lebih cepat dibandingkan target operasional awal sehingga membuka peluang percepatan kontribusi bisnis non-batu bara terhadap pendapatan grup.
Selain itu, prospek segmen logam dinilai semakin menarik karena harga emas dan tembaga masih berada di level yang tinggi, sementara tambang Wolfram memiliki struktur cash cost yang relatif rendah. Kombinasi tersebut diperkirakan akan mulai memberikan dampak yang lebih nyata terhadap kinerja perusahaan pada kuartal III-2026.
“Kami melihat kuartal ketiga berpotensi menjadi periode ketika investor mulai melihat kontribusi aset non-batubara mulai terlihat lebih signifikan dalam kinerja BUMI. Kehadiran aset logam memberikan sumber pertumbuhan baru sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus batu bara,” kata Devi.
Ke depan, peningkatan profitabilitas juga diperkirakan akan memperkuat kemampuan BUMI dalam menjalankan agenda ekspansi. Menurut Devi, fundamental yang semakin baik akan meningkatkan fleksibilitas pendanaan perusahaan, baik dari arus kas internal maupun akses terhadap pembiayaan eksternal.
Devi juga menambahkan seiring meningkatnya profitabilitas BUMI, kemampuan membiayai ekspansi menjadi lebih solid karena kapasitas pendanaan internal meningkat, sementara akses terhadap pembiayaan eksternal juga cenderung semakin baik ketika fundamental perusahaan terus menguat.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.