Detak Media — PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melaporkan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026, dengan membukukan pendapatan sebesar Rp 3,46 triliun dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai Rp 2,95 triliun. Perseroan juga berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan organik dengan penambahan 2.023 penyewaan bruto sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Jika kinerja kuartal II-2026 disetahunkan, pendapatan TBIG diproyeksikan mencapai Rp 6,97 triliun, sementara EBITDA diperkirakan menyentuh angka Rp 5,95 triliun. Hingga akhir Juni 2026, total portofolio TBIG mencakup 42.332 penyewaan yang tersebar di 25.280 site telekomunikasi. Rinciannya, terdapat 25.172 menara telekomunikasi dan 108 jaringan distributed antenna system (DAS).
Dengan total 42.224 penyewaan pada menara telekomunikasi, rasio kolokasi atau tenancy ratio perseroan tercatat sebesar 1,68 kali. Chief Executive Officer (CEO) Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Hardi Wijaya Liong, menyatakan bahwa pertumbuhan organik terus berlanjut hingga kuartal II-2026. “Pada semester pertama tahun ini, kami menambah 2.023 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami, yang terdiri atas 1.417 site telekomunikasi baru dan 606 kolokasi,” ujar Hardi dalam keterangan pers, Selasa (4/8/2026).
Dari sisi struktur permodalan, total utang TBIG per 30 Juni 2026 adalah sebesar Rp 29,01 triliun. Angka ini sudah memperhitungkan pinjaman dalam dolar Amerika Serikat yang telah dilindung nilai menggunakan kurs lindung nilai. Dengan posisi kas sebesar Rp 700 miliar, total utang bersih perseroan tercatat Rp 28,31 triliun. Berdasarkan EBITDA kuartal II yang disetahunkan, rasio utang bersih terhadap EBITDA berada pada level 4,8 kali.
Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Helmy Yusman Santoso, menambahkan bahwa kontrak jangka panjang yang dimiliki perseroan memastikan arus kas yang stabil. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk terus menjalankan berbagai inisiatif yang menguntungkan bagi para pemegang saham. “TBIG telah membagikan dividen sebesar Rp 1,06 triliun pada awal Juli 2026. Selain itu, dukungan dari para kreditur tetap kuat dan perseroan terus menerapkan strategi konservatif dalam melakukan lindung nilai terhadap utang dalam mata uang dolar AS,” tutup Helmy.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.