— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 56,5 poin atau 0,9% ke level 6.147 pada sesi I perdagangan, Kamis (30/7/2026). Penguatan ini terjadi di tengah berbagai dinamika pasar global dan domestik.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa bursa regional Asia bergerak melemah. Pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya. Ketegangan geopolitik juga meningkat seiring memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada rentang 3,5%–3,75% mengindikasikan kebijakan suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama. Keputusan ini diambil meskipun risiko inflasi meningkat akibat konflik yang kembali terjadi di Timur Tengah.

Tiga anggota FOMC berbeda pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga. Ketua Kevin Warsh menekankan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga tidak boleh dianggap sebagai tanda kelambatan kebijakan, dan pasar akan terus merespons data ekonomi yang masuk.

Di sisi lain, AS dilaporkan melakukan serangan udara terhadap Iran setelah serangan terhadap pasukan Amerika di wilayah tersebut. Kedua pihak belum mencapai kesepakatan potensial karena Teheran bersikeras mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, yang menimbulkan kekhawatiran pasar mengenai inflasi dan prospek suku bunga.

Sementara itu, dari dalam negeri, IHSG berhasil rebound di tengah tekanan pasar eksternal dan ketidakpastian mengenai suksesi bank sentral Indonesia. Penguatan indeks ditopang oleh kenaikan emiten bluechip dan musim rilis laporan keuangan.

Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mengalami kenaikan terbesar adalah DOSS, FAST, TIFA, BAJA, dan ESTI. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar tercatat MCAS, IFSH, BLUE, ECII, dan AKSI.

Pilarmas merekomendasikan saham INCO dengan support dan resistance di level 4.620-5.350.