— PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge melaporkan kinerja keuangan semester I-2026 yang belum diaudit, menunjukkan lonjakan pendapatan signifikan hingga mencapai Rp 1,57 triliun. Angka ini merupakan kenaikan sebesar 206% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pesat ini terjadi seiring dengan transisi perseroan dari fase pembangunan infrastruktur digital menuju fase monetisasi aset yang telah berhasil dibangun.

Segmen telekomunikasi menjadi tulang punggung pertumbuhan, dengan pendapatan yang melonjak 357% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1,28 triliun. Kontribusi segmen ini kini mencapai 82% dari total pendapatan perseroan, menjadikannya pendorong utama kinerja keuangan. Keberhasilan ini ditopang oleh 1,85 juta pelanggan layanan HomeConnect Fiber-to-the-Home (FTTH) serta peluncuran komersial layanan Fixed Wireless Access (FWA) pada akhir Februari 2026.

“Semester I-2026 menandai titik balik bagi SURGE. Selama beberapa tahun terakhir kami membangun infrastruktur, kini fokus kami adalah memastikan setiap kilometer serat optik dan setiap sektor radio yang telah kami bangun menghasilkan pendapatan berulang,” ujar Shannedy Ong, Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026). “Pertumbuhan pendapatan telekomunikasi sebesar 357% adalah bukti awal bahwa transisi tersebut berjalan sesuai rencana,” lanjutnya.

Pertumbuhan pendapatan perseroan pada paruh pertama 2026 semakin diperkuat oleh bisnis telekomunikasi ritel. Ekspansi jaringan yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir kini mulai diterjemahkan menjadi pendapatan berulang, sejalan dengan peningkatan utilisasi infrastruktur yang telah dibangun. Kontribusi segmen telekomunikasi kini menyumbang 82% dari total pendapatan, meningkat signifikan dari sekitar 55% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai konsekuensinya, kontribusi segmen non-telekomunikasi mengalami penurunan, dengan pendapatan iklan turun 52% YoY. Hal ini mencerminkan pergeseran struktural dalam bauran pendapatan perseroan yang kini lebih mengarah pada pendapatan konektivitas yang bersifat berulang.

Kombinasi layanan FTTH dan FWA memungkinkan perseroan menjangkau dua profil permintaan yang berbeda. Kawasan berkepadatan tinggi yang layak dilayani serat optik, serta kawasan yang secara ekonomi lebih efisien dilayani melalui akses nirkabel. Pendekatan ini memperluas cakupan pasar perseroan tanpa harus menunggu penyelesaian pembangunan serat optik di seluruh wilayah target. Selain layanan ritel, bisnis telekomunikasi Business-to-Business (B2B) perseroan juga turut memperkuat pertumbuhan segmen telekomunikasi.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA mencapai Rp 948,9 miliar, tumbuh 117% YoY dan 13% Quarter-on-Quarter (QoQ). Margin EBITDA tetap terjaga di atas 60%, tepatnya 60,4%, di tengah fase pertumbuhan. Angka ini mencerminkan efisiensi belanja modal dan pengendalian biaya yang disiplin. Meskipun terjadi penurunan dari margin 85,2% pada Semester I 2025, hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan bauran pendapatan. Pendapatan perseroan kini lebih didominasi oleh layanan telekomunikasi ritel, yang secara struktural memiliki margin lebih rendah dibandingkan pendapatan proyek infrastruktur, namun bersifat berulang dan jauh lebih dapat diprediksi.

“Mempertahankan margin EBITDA di atas 60% justru pada fase ekspansi paling intensif dalam sejarah Perseroan mencerminkan disiplin belanja modal dan pengendalian biaya kami,” ujar Shannedy Ong. “Pergeseran menuju pendapatan telekomunikasi ritel yang berulang memang membawa margin ke tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan proyek infrastruktur, namun basis pendapatan yang kami bangun hari ini jauh lebih berkelanjutan dan lebih dapat diprediksi,” sambungnya.

Laba bersih konsolidasi tumbuh 118% YoY menjadi Rp 496,8 miliar. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 331,2 miliar, tumbuh 45% YoY dan 1% QoQ. Selisih terhadap laba bersih konsolidasi mencerminkan kepentingan non-pengendali pada anak usaha perseroan.

Posisi keuangan perseroan tetap kuat. Belanja modal Semester I 2026 tercatat Rp 1,18 triliun untuk melanjutkan ekspansi jaringan. Kas dan setara kas mencapai Rp 8,29 triliun per 30 Juni 2026, setelah penerbitan obligasi dan sukuk pada semester ini. Utang bersih tercatat Rp 1,77 triliun, setara sekitar 0,9x EBITDA disetahunkan, dibandingkan posisi kas bersih pada akhir 2025. Hal ini mencerminkan struktur permodalan yang tetap konservatif di tengah fase investasi.

Sebagian sumber daya juga dialokasikan untuk mempercepat pengembangan layanan FWA yang baru memasuki tahap komersialisasi pada akhir Februari 2026. Perseroan memperkirakan efisiensi operasional layanan FWA akan meningkat secara bertahap seiring bertambahnya skala pelanggan dan tingkat utilisasi sektor radio.