— JAKARTA – PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mematangkan resep strateginya untuk mencapai target pertumbuhan kinerja yang ambisius. Perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 50% dan laba bersih melonjak 70% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada 2026.

Strategi utama FORE berakar pada dua pilar penggerak kinerja. Pertama, pertumbuhan pendapatan dari gerai yang sudah beroperasi atau same store sales growth (SSSG). Kedua, penambahan jumlah gerai secara berkelanjutan.

Director of Strategy FORE, M. Fahmi Rachmatullah, menjelaskan bahwa SSSG perseroan terus menunjukkan tren positif setiap tahunnya, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan pendapatan perusahaan.

Dari sisi ekspansi gerai, Fahmi memproyeksikan penambahan 80 gerai baru pada tahun ini. Dengan demikian, total gerai FORE diharapkan mencapai 422 unit pada 2026.

Selain dua pilar utama tersebut, pendapatan perseroan juga didukung oleh unit bisnis lain, termasuk Fore Donut yang terbilang baru. “Hari ini, Fore Donut sudah ada 14 gerai. Kami ekspektasikan sampai akhir tahun ini jumlah gerainya bisa mendekati 25-30 gerai. Jadi, dari situ kami juga lagi ramp up tentang Donutnya,” ujar Fahmi di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Meskipun demikian, kontribusi Fore Donut terhadap total pendapatan perseroan hingga akhir 2026 diprediksi masih di bawah 5%. Oleh karena itu, selain fokus menambah gerai, perseroan juga sedang membangun pabrik pengolahan dough.

“Jadi, tujuan (pembangunan pabrik) ini biar kita bisa ekspansi ke luar kota. Karena dengan adanya pabrik pengolahan dough ini, kami bisa kirim frozen dough,” imbuh Fahmi.

Pabrik yang berlokasi di Taman Tekno, BSD, Tangerang Selatan, ini dirancang untuk menyuplai frozen dough tidak hanya ke gerai-gerai di Jabodetabek, tetapi juga ke kota-kota di luar Jawa seperti Medan dan daerah lainnya.

Fahmi menargetkan pabrik pengolahan dough dengan kapasitas ratusan piece per hari ini dapat beroperasi pada Agustus atau September 2026 dan akan melayani sejumlah gerai hingga tahun depan.

Capex

Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp15 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan dough tersebut. Biaya ini bersumber dari dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO).

Penambahan gerai Fore Donut sendiri akan diprioritaskan di wilayah Jabodetabek dan mal-mal besar. Jika pembukaan gerai Fore Donut berjalan lancar, Fahmi menyatakan, perseroan akan mulai mempertimbangkan ekspansi ke luar Jabodetabek, seperti Semarang dan Yogyakarta.

Alasan FORE mengutamakan pembukaan Fore Donut di mal-mal besar adalah karena, menurut Fahmi, sebagai produk baru, perseroan membutuhkan traffic pooling. “Jadi, walaupun ada awareness Fore, cuma karena Fore Donut ini brand baru tetap harus yang sudah ada trafiknya,” tandas Fahmi.