— JAKARTA – Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menunjukkan performa yang luar biasa dalam sebulan terakhir, mencatatkan kenaikan mencapai 25,81%. Pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026), saham emiten rokok ini bertengger di level Rp 19.500, menguat 2,63%. Perdagangan saham GGRM kemarin melibatkan 3,64 juta lembar dengan frekuensi 5.789 kali transaksi, membukukan nilai total Rp 70,82 miliar. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 38,22 miliar pada hari itu.

Dalam periode satu bulan terakhir, investor asing telah mengukir rekor pembelian bersih saham Gudang Garam sebesar Rp 194,57 miliar. Jika ditilik lebih jauh ke belakang, saham Gudang Garam telah melonjak 119,72% dalam setahun terakhir, sebuah pencapaian yang sangat mengesankan.

Meskipun demikian, harga saham Gudang Garam saat ini masih terpaut jauh dari puncak kejayaannya yang pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di Rp 100.975 pada Maret 2019. Namun, belakangan ini saham GGRM mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, yang turut ditopang oleh peningkatan raihan laba bersih perusahaan.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) berhasil membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,97 triliun sepanjang semester I-2026. Angka ini merupakan lompatan fantastis sebesar 2.440% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencapai Rp 117,16 miliar. Laporan keuangan perseroan yang berakhir per 30 Juni 2026 juga menunjukkan laba per saham melonjak menjadi Rp 1.547, melesat dari Rp 61 per akhir Juni 2025.

Secara pendapatan, Gudang Garam mencatatkan penurunan omzet menjadi Rp 41,17 triliun dari Rp 44,36 triliun pada semester I-2025. Namun, perusahaan berhasil melakukan efisiensi dengan menekan biaya pokok menjadi Rp 35,19 triliun, berbanding Rp 40,58 triliun pada periode sebelumnya. Hasilnya, laba bruto Gudang Garam di enam bulan pertama tahun ini tercatat Rp 5,98 triliun, meningkat signifikan dari Rp 3,78 triliun pada Januari-Juni 2026. Total aset perusahaan juga menguat ke posisi Rp 77,87 triliun, ditopang oleh penguatan kas dan setara kas yang mencapai Rp 8,71 triliun per 30 Juni 2026. Total liabilitas GGRM tercatat sebesar Rp 13,77 triliun.