— Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan penguatan signifikan menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal II-2026. Perhatian investor meningkat terhadap prospek kinerja operasional perusahaan sekaligus perkembangan strategi diversifikasi bisnisnya.

Pada perdagangan Kamis (23/7/2026), saham BUMI ditutup menguat di level Rp 183, naik 8,9% dari penutupan sebelumnya di Rp 168. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp 196 dengan volume transaksi mencapai sekitar 12,1 miliar saham atau senilai Rp 2,2 triliun. Dalam sepekan, harga saham BUMI telah melonjak sekitar 23% dari posisi Rp 149 pada 16 Juli 2026. Sementara itu, dalam satu bulan terakhir, saham BUMI menguat hampir 10% dari posisi Rp 167 pada 23 Juni 2026.

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai reli saham BUMI tidak terlepas dari ekspektasi investor terhadap laporan keuangan kuartal II-2026. Pasar juga mulai memperhitungkan potensi kontribusi aset non-batubara perseroan yang telah memasuki tahap produksi.

“Penguatan BUMI menunjukkan adanya ekspektasi positif menjelang laporan keuangan kuartal kedua. Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti perseroan, tetapi juga melihat bahwa strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah memasuki fase operasional,” ujar Aditya.

Melalui Wolfram Limited di Australia, BUMI telah memulai pengembangan tambang Mt. Carlton yang menghasilkan emas, perak, dan tembaga. Operasi tambang terbuka di area V2 menjadi sumber produksi utama sejak April 2026. Aktivitas penambangan bawah tanah di area A39 juga telah dimulai untuk mengakses bijih dengan kadar lebih tinggi.

Seluruh konsentrat dari Mt. Carlton akan dipasarkan kepada Glencore melalui perjanjian offtake selama tujuh tahun. Kontrak ini memberikan kepastian pembeli sekaligus memperkuat visibilitas komersial proyek.

Strategi diversifikasi ini diarahkan untuk membentuk komposisi EBITDA yang lebih seimbang antara bisnis batu bara dan non-batubara pada 2031. Dalam riset SimInvest, kontribusi EBITDA non-batubara diproyeksikan mulai meningkat menjadi sekitar 20% pada 2026 dan mencapai 40% pada 2027.

Peluang Valuasi Baru

Selain realisasi proyek non-batubara, ekspektasi positif investor juga ditopang oleh kinerja BUMI pada kuartal I-2026 yang tumbuh solid. Pendapatan perseroan mencapai US$ 417,7 juta, naik sekitar 20% dibandingkan US$ 348,8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba kotor BUMI melonjak 62% menjadi US$ 82,8 juta, sedangkan laba usaha meningkat 76% menjadi US$ 49,1 juta. Laba periode berjalan mencapai US$ 41,1 juta, tumbuh 37% secara tahunan, dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 35% menjadi US$ 24,1 juta.

Perbaikan kinerja juga terlihat dari sisi operasional. Produksi batu bara BUMI naik menjadi 19,2 juta ton dari 17,2 juta ton. Volume penjualan meningkat 14% menjadi 19,1 juta ton, sementara stripping ratio membaik menjadi 7,7 kali dari sebelumnya 8,4 kali.

Efisiensi biaya turut menopang profitabilitas. Biaya produksi rata-rata turun menjadi US$ 40 per ton pada kuartal I-2026 dari US$ 45,1 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya biaya bahan bakar dan perbaikan stripping ratio.

Menurut Aditya, kemampuan BUMI meningkatkan volume produksi sekaligus menekan biaya produksi menjadi faktor penting yang akan dicermati dalam laporan kuartal kedua. “Pasar akan melihat apakah tren pertumbuhan volume dan efisiensi biaya dapat dipertahankan. Apabila penjualan tetap meningkat dan biaya produksi terjaga, BUMI memiliki ruang untuk mempertahankan kualitas laba meskipun harga jual batu bara masih berfluktuasi,” katanya.

Aditya menambahkan, BUMI sedang bertransformasi dari produsen batu bara menjadi perusahaan pertambangan multikomoditas. “Meskipun kontribusi aset mineral masih akan berkembang secara bertahap, pasar berpeluang memberikan valuasi baru karena sumber pendapatan BUMI menjadi lebih beragam,” ujarnya.