Detak Media — JAKARTA – Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) menunjukkan performa impresif dengan kenaikan mencapai 30% dalam sebulan terakhir. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026), harga saham bank digital ini berada di level 1.225, menguat 6,52%. Kinerja ini menempatkan ARTO sebagai pemimpin di antara emiten bank digital lainnya. Sebagai perbandingan, saham PT SuperBank Tbk (SUPA) naik 12%, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) tumbuh 15,93%, dan PT Bank Amar Tbk (AMAR) menguat 6,12% dalam periode yang sama. Sebaliknya, saham PT Allo Bank Tbk (BBHI) mengalami koreksi 2,69%.
Tren positif ini berawal dari pemberitaan Bloomberg pada 9 Juli 2026 mengenai rencana aksi korporasi yang melibatkan kepemilikan saham di Bank Jago dan PT BFI Finance Tbk (BFIN), salah satu opsinya adalah merger. Pasar merespons kabar tersebut dengan cepat. Saham ARTO melonjak 18,23% ke posisi 1.200 pada hari berita itu tersebar. Meskipun manajemen kedua perusahaan menyatakan tidak dapat menanggapi aktivitas pemegang saham, antusiasme investor tetap tinggi.
Analis Ajaib Sekuritas Alvin Murthi melihat lonjakan volume perdagangan menjadi 28,68 juta lembar per hari sebagai bukti partisipasi investor yang nyata. Angka ini jauh melampaui rata-rata harian sepanjang tahun berjalan yang hanya 5,83 juta lembar. Alvin menegaskan bahwa kenaikan harga ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan didukung oleh partisipasi investor yang solid. Reli saham sempat menyentuh puncak Rp1.405 pada 17 Juli 2026 sebelum mengalami koreksi teknikal ke Rp1.330, sebuah fase konsolidasi yang dinilai menyehatkan bagi saham yang telah melesat kencang.
Dinamika pasar yang positif ini sejalan dengan fundamental keuangan yang solid sepanjang semester I 2026. Per Juni 2026, Bank Jago mencatatkan ekspansi impresif di seluruh lini bisnis. Kredit dan pembiayaan tumbuh 24% menjadi Rp26,62 triliun, melampaui rata-rata industri sebesar 12,67%. Manajemen risiko tetap disiplin dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross ditekan di level 0,8%, berada di bawah rata-rata nasional.
Pertumbuhan fungsi intermediasi ini mendorong pendapatan bunga bersih ARTO naik 28% year-on-year menjadi Rp1,49 triliun, sementara pendapatan non-bunga melonjak 41% year-on-year menjadi Rp285 miliar. Alhasil, laba bersih setelah pajak tumbuh kuat 49% menjadi Rp189 miliar.
“Ekosistem Bank Jago yang didukung mitra strategisnya bukan hanya solid dan mengakar, juga berhasil dimonetisasi secara optimal sehingga berdampak pada kinerja. Kolaborasi tampak nyata pada sisi lending maupun funding,” kata Alvin, Jumat (31/7/2026).
Diversifikasi dan Target Saham
Alvin menyoroti strategi diversifikasi sebagai faktor fundamental pendukung harga saham. Ia menekankan kombinasi produk konvensional dan syariah memberikan keunggulan kompetitif bagi ARTO. Kemampuan Bank Jago melayani dua segmen tersebut secara simultan menciptakan posisi tawar yang sulit dicapai bank digital pesaing.
Langkah ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi perusahaan dalam menjaga profitabilitas serta melayani kebutuhan nasabah secara lebih komprehensif di tengah persaingan ketat sektor perbankan digital. Berdasarkan data Stockbit, secara umum analis memberikan rekomendasi ‘buy’ untuk saham ARTO. Total ada 12 analis yang menyematkan rating ‘buy’ dan empat analis memberikan rekomendasi ‘hold’. Tidak ada analis yang memberikan rating ‘sell’. Dari 16 analis yang dihimpun, rata-rata target harga atau ‘target price’ (TP) ARTO adalah Rp1.924, dengan level terendah Rp1.330 dan tertinggi Rp2.400.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.