Detak Media — PT Tambang Mas Sangihe (TMS) menyatakan komitmennya untuk tidak hanya fokus pada pengembangan tambang emas di Pulau Sangihe, tetapi juga merambah sektor pariwisata dan energi panas bumi. Langkah ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan di wilayah tersebut.
Chief Executive Officer PT TMS, Terry Filbert, menjelaskan bahwa pertambangan emas dipandang sebagai pintu masuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal selama masa operasi yang diperkirakan mencapai 20 tahun. “Jika masyarakat berhasil, maka kami juga berhasil. Kepentingan kami adalah membantu pulau ini berkembang bersama kami,” ujar Terry dalam keterangannya, Selasa (4/6/2026).
Tahap awal, PT TMS menargetkan perekrutan sekitar 100 pekerja setelah seluruh perizinan diperoleh. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi hampir 1.000 pekerja saat tambang beroperasi penuh. Perusahaan akan memprioritaskan tenaga kerja lokal dan menyediakan pelatihan bagi masyarakat yang belum memiliki pengalaman di sektor pertambangan.
Pengembangan Wisata Selam Unggulan
Selain aktivitas pertambangan, PT TMS berencana mendorong pengembangan wisata selam di Kepulauan Sangihe. Terry Filbert menilai kawasan yang termasuk dalam Coral Triangle ini memiliki potensi besar sebagai destinasi penyelaman kelas dunia. Beberapa lokasi unggulan yang disebutkannya antara lain Mahengetang dan Drowned Village.
Secara geografis, Kepulauan Sangihe terletak di Coral Triangle, sebuah wilayah yang diakui sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Keunikan wilayah ini ditandai dengan konsentrasi terumbu karang dan spesies ikan karang tertinggi di dunia. Gugusan pulau vulkanik ini berada di antara Sulawesi dan Filipina.
Salah satu daya tarik utama wisata selam adalah Mahengetang, gunung api bawah laut aktif yang secara konstan mengeluarkan gelembung gas vulkanik. Selain itu, Drowned Village, sisa desa yang tenggelam akibat aktivitas vulkanik pada 1963, kini telah ditumbuhi karang hitam, menjadikannya lokasi penyelaman yang unik dan langka.
Terry Filbert meyakini kombinasi kekayaan hayati laut dan fenomena geologi ini menjadikan Sangihe memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata selam paling unik di Indonesia. PT TMS membuka peluang kerja sama dengan para pelaku industri pariwisata, termasuk hotel dan maskapai penerbangan, untuk meningkatkan akses wisatawan ke Sangihe. “Kami ingin membantu mempromosikan Sangihe sebagai destinasi wisata selam bertaraf internasional,” tambahnya.
Potensi Energi Panas Bumi di Gunung Awu
Di sektor energi, PT TMS juga tengah mengkaji pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Awu. Proyek ini bertujuan untuk mendukung pasokan listrik yang lebih stabil dan menekan biaya energi bagi masyarakat serta dunia usaha.
Terry Filbert berpendapat bahwa ketersediaan listrik yang lebih terjangkau dapat membuka peluang investasi di sektor lain, seperti perikanan, industri pengolahan, dan usaha berbasis rantai dingin.
Meskipun demikian, Terry menegaskan bahwa seluruh rencana ini masih sangat bergantung pada penyelesaian proses perizinan, realisasi investasi, serta dukungan konkret dari pemerintah dan masyarakat setempat.
Berdasarkan kajian awal perusahaan, pembangunan pembangkit listrik panas bumi diperkirakan dapat dilakukan di kawasan sekitar Gunung Awu, bagian utara Pulau Sangihe. Kapasitas yang direncanakan sekitar 10 gigawatt (GW) dengan estimasi nilai investasi sekitar US$40 juta. PT Tambang Mas Sangihe mengklaim memiliki akses terhadap jaringan investor internasional yang berpotensi mendukung pendanaan proyek tersebut.
“Keberhasilan proyek ini tidak diukur dari apa yang kami janjikan, tetapi dari apa yang benar-benar dapat kami wujudkan bagi masyarakat Sangihe,” pungkas Terry Filbert.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.