Detak Media — JAKARTA – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) diproyeksikan memasuki fase baru pertumbuhan di tahun ini seiring transisi dari tahap konstruksi menuju produksi komersial di Tambang Emas Pani, Gorontalo. Perubahan fundamental ini diperkirakan menjadi titik balik perseroan untuk mencetak laba perdana sekaligus memperkuat prospek saham di tengah tren kenaikan permintaan emas global.
Transisi ini menandai pergeseran strategi EMAS dari fokus membangun aset menjadi perusahaan yang mulai menghasilkan arus kas dari operasional tambang. Didukung oleh aset emas primer terbesar di Indonesia, ruang eksplorasi yang luas, serta prospek harga emas yang tetap tinggi, perseroan dinilai memiliki fondasi kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.
Optimisme ini mendorong KB Valbury Sekuritas untuk menyematkan rekomendasi buy saham EMAS dengan target harga Rp7.400. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 12,12% dari harga penutupan perdagangan EMAS pada Jumat, 31 Juli 2026, yang berada di level Rp6.600. Katalis utama meliputi dimulainya produksi komersial, proyeksi laba perdana, serta beroperasinya fasilitas carbon-in-leach (CIL) mulai 2028.
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Nufal Rafi Kamal, menjelaskan bahwa rekomendasi ini didasarkan pada perubahan fundamental di Tambang Pani, Gorontalo. Tambang tersebut merupakan aset emas primer terbesar di Indonesia dengan sumber daya mencapai 7 juta ons, menjadikannya terbesar kelima di Asia. Cadangan emasnya tercatat 5,2 juta ons, menempatkannya di peringkat keempat di Asia.
“Kami memulai cakupan atas saham EMAS dengan rekomendasi buy dan target harga berbasis DCF sebesar Rp7.400 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada transisi EMAS dari tahap konstruksi menuju produksi komersial di Tambang Pani di tengah meningkatnya permintaan emas global,” tulis Ashalia dan Nufal dalam riset mereka.
Potensi pertumbuhan EMAS dinilai masih terbuka lebar karena sumber daya dan cadangan yang ada baru mencakup sekitar 135 hektare, atau hanya 0,9% dari total wilayah konsesi Pani seluas 14.670 hektare. Kondisi ini menunjukkan ruang eksplorasi yang sangat besar untuk peningkatan sumber daya dan cadangan di masa mendatang.
Pendapatan Naik Signifikan
Seiring dimulainya produksi komersial, KB Valbury memperkirakan pendapatan EMAS akan meningkat signifikan. Dengan asumsi harga emas US$4.600 per ons, pendapatan diproyeksikan mencapai US$150 juta pada tahun fiskal 2026 (FY26F) dan melonjak menjadi US$765 juta pada FY28F. Angka ini mencatat pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 126%.
Kenaikan pendapatan tersebut diprediksi menjadi titik balik kinerja perseroan. EMAS diproyeksikan membukukan laba kotor sebesar US$55 juta dengan marjin 37,1%, EBITDA US$45 juta dengan marjin 30%, serta laba bersih US$14 juta pada FY26F. Angka ini berbanding terbalik dengan rugi bersih US$27 juta yang tercatat pada FY25.
“Laba bersih diperkirakan berbalik positif dari rugi US$27 juta pada FY25 menjadi laba US$14 juta pada FY26F, yang merupakan tahun pertama produksi melalui metode heap leach, sebelum fasilitas carbon-in-leach (CIL) mulai beroperasi pada FY28F,” jelas Ashalia dan Nufal.
KB Valbury mencatat, produksi perdana Tambang Pani telah dimulai pada Februari 2026 dengan volume 1.818 ons. Sepanjang tahun ini, produksi diperkirakan meningkat menjadi sekitar 50 ribu ons melalui metode heap leach. Fasilitas CIL yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, ditargetkan mulai beroperasi pada FY28F. Kehadiran fasilitas ini diprediksi akan meningkatkan volume produksi sekaligus efisiensi operasional.
Permintaan Emas Terus Naik
Selain dari produksi perdana, prospek EMAS juga ditopang oleh tren permintaan emas global yang terus meningkat. Sejak tahun 2020, permintaan logam mulia ini konsisten mengalami kenaikan dari 3.703 ton menjadi 5.025 ton pada 2025.
Peningkatan tersebut didorong oleh pergeseran permintaan dari sektor perhiasan menuju investasi, serta pembelian oleh bank sentral. Porsi pembelian bank sentral terhadap total permintaan emas global meningkat menjadi 17% pada 2025, naik dari 7% pada 2020. Rata-rata pembelian oleh bank sentral mencapai sekitar 1.000 ton per tahun dalam empat tahun terakhir.
Tren ini berlanjut pada kuartal I-2026, di mana pembelian bank sentral mencapai sekitar 20,4% dari total permintaan emas global. Bahkan, 89% responden survei World Gold Council pada Juli memperkirakan cadangan emas resmi bank sentral dunia akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Namun, KB Valbury mengingatkan bahwa kinerja EMAS tetap sensitif terhadap pergerakan harga emas. Dengan asumsi harga emas US$4.600 per ons, setiap perubahan harga emas sebesar 1% diperkirakan akan mengubah laba bersih sekitar 2,0-2,1% ke arah yang sama.
“EMAS dapat dipandang sebagai saham yang memiliki eksposur tinggi terhadap pergerakan harga emas. Kenaikan harga emas akan memberikan dorongan yang lebih besar terhadap pertumbuhan laba. Namun penurunan harga emas juga akan berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan,” ujar mereka.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.