Detak Media — Prospek emiten minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) diprediksi masih akan cerah memasuki paruh kedua 2026. Ketatnya pasokan akibat fenomena El Nino dan implementasi B50 menjadi katalisator utama yang berpotensi melanjutkan penguatan emiten sawit yang telah dicapai pada semester pertama tahun ini.
Sepanjang semester I-2026, kinerja emiten sawit menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sejumlah perusahaan besar seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) sebagian besar membukukan kenaikan laba hingga dua digit.
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,09 triliun pada Januari-Juni 2026. Angka ini melonjak 56,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) yang sebesar Rp702 miliar. Pendapatan bersih AALI juga tumbuh dari Rp14,44 triliun menjadi Rp15,25 triliun.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) sukses membukukan keuntungan bersih sebesar Rp2 triliun, menguat 20,44% secara YoY. Peningkatan ini diraih di tengah pendapatan kontrak dengan pelanggan yang mencatat kenaikan tipis. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga menunjukkan performa meyakinkan dengan laba bersih meningkat 9,36% menjadi Rp1 triliun, naik dari Rp702,12 miliar pada semester I-2025.
Peningkatan laba bersih DSNG terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan perseroan yang cenderung terbatas, dari Rp6 triliun per 30 Juni 2025 menjadi Rp6,29 triliun pada periode yang berakhir 30 Juni 2026. Sementara itu, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) menjadi emiten sawit dengan pertumbuhan pendapatan paling signifikan, hampir 70% secara YoY menjadi Rp6 triliun, diikuti dengan lonjakan laba bersih sebanyak 15,33%.
Rapor hijau emiten sawit pada paruh pertama 2026 ini turut menopang kinerja saham mereka di lantai bursa. Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), saham AALI ditutup menguat 5,77% ke posisi Rp6.875. Saham TAPG naik 2% ke posisi Rp1.785, saham DSNG melonjak 3,42% ke posisi Rp1.360, dan saham STAA ditutup naik 0,92% ke level Rp1.095.
Tiga Faktor Pendorong Kinerja Positif
Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyebutkan tiga faktor utama yang mendorong kinerja positif emiten sawit pada semester I-2026. Pertama, harga CPO masih berada di atas MYR4.500 per ton. Hal ini didorong oleh implementasi B50 yang dimulai Juli dan adanya ‘war premium’ dari konflik Selat Hormuz yang menaikkan biaya pupuk dan biaya pengiriman global.
Kedua, semester I-2026 merupakan ‘peak season’ produksi tandan buah segar (TBS). Volume produksi dan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) yang tinggi menciptakan ‘earnings leverage’ yang kuat. Ketiga, pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp18.000 menguntungkan bagi emiten sawit karena pendapatan mereka dalam USD, sementara sebagian besar biaya operasional dalam rupiah.
Prospek Paruh Kedua 2026
Memasuki paruh kedua 2026, Wafi melihat prospek emiten sawit tetap konstruktif, meskipun lebih moderat dibandingkan semester I-2026. Katalis positifnya adalah implementasi B50 yang efektif pada Juli menjadi ‘structural demand driver’ yang belum sepenuhnya tercermin di pasar, serta harga minyak yang masih tinggi menjaga ‘price parity’ CPO.
Namun, ada pula katalis negatif yang perlu dicermati. Masuknya ‘low season’ produksi TBS berpotensi menurunkan volume. Selain itu, penundaan pembayaran dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara historis sering terjadi dan dapat menciptakan ‘cashflow mismatch’. Perlambatan ekonomi global akibat tarif Trump juga berpeluang menekan permintaan minyak nabati.
Wafi merekomendasikan emiten sawit dengan tiga kriteria: integrasi ‘downstream’ biodiesel untuk menangkap ‘full value chain’ B50, neraca keuangan yang kuat untuk menyerap pembayaran tertunda dari BPDPKS, dan ‘free float’ bersih tanpa konsentrasi kepemilikan tinggi. Saham AALI dan DSNG dinilai menarik sebagai proxy B50, namun perlu dicermati posisi utang dan komitmen belanja modal mereka.
Dua Faktor Penggerak Utama
Sementara itu, Retail Research Analyst CGS Sekuritas Indonesia, Andrian A. Saputra, menyoroti dua faktor utama yang memengaruhi performa saham emiten sawit. Pertama, fenomena El Nino yang berdampak pada pasokan, dan kedua, implementasi program mandatori biodiesel (B50) di Indonesia.
Andrian menjelaskan, El Nino berpotensi menurunkan produktivitas kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia akibat curah hujan yang lebih rendah. Meskipun dampak El Nino dirasakan dalam 12 bulan setelah periode kekeringan, ekspektasi penurunan pasokan ini seringkali menjadi sentimen positif bagi saham emiten CPO sejak awal.
Dari sisi permintaan, implementasi B50 diperkirakan akan menggenjot konsumsi CPO sebagai bahan baku biodiesel. Hal ini meningkatkan permintaan domestik sekaligus memangkas volume ekspor, yang pada akhirnya memperkuat prospek harga kelapa sawit.
“Bagi emiten sawit, agribisnis, dan perkebunan, harga CPO yang lebih tinggi umumnya berdampak positif terhadap ASP dan ‘earning per share’ (EPS). Margin dan profitabilitas saham emiten sawit seperti SSMS, AALI, TAPG, LSIP, SIMP, dan DSNG diperkirakan menjadi yang paling diuntungkan oleh pergerakan harga CPO,” papar Andrian.
CGS Sekuritas merekomendasikan ‘hold’ saham AALI dengan target harga Rp6.775, ‘add’ saham DSNG dengan target harga Rp1.640, dan saham TAPG dengan target harga Rp1.920. “Implementasi B50 dan faktor El Nino diharapkan dapat mendongkrak harga atau menjaga harga CPO tetap stabil pada akhirnya,” tutup Andrian.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.