Detak Media — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga produksi migas dari lapangan-lapangan yang telah menua atau dikenal dengan istilah mature. Kondisi ini, terutama di Blok Rokan yang telah beroperasi sejak 1952, menyebabkan penurunan produksi rata-rata sekitar 30% setiap tahunnya.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin, menjelaskan bahwa menjaga produksi dari lapangan mature memerlukan upaya yang semakin kompleks. “Karena itu kami menjalankan strategi yang tidak hanya mempertahankan baseline produksi, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru agar ketahanan energi nasional tetap terjaga,” ujar Arifin.
Untuk menjawab kompleksitas industri hulu migas, PHR menerapkan tiga strategi utama yang saling terintegrasi: Energy Security, Energy Transition, dan New Business & Strengthening Enablers. Strategi ini menjadi landasan perusahaan dalam menjaga ketahanan energi nasional, mendukung transisi menuju energi berkelanjutan, dan membangun kapabilitas baru untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Implementasi strategi tersebut didukung oleh lima pilar strategis. Pilar Maintain Baseline menjadi fondasi utama untuk keberlanjutan produksi dari aset mature. Upaya ini mencakup optimalisasi teknologi primary recovery, secondary recovery, hingga tertiary recovery, termasuk penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) secara komersial di Minas Area A sejak Desember 2025 untuk meningkatkan perolehan minyak.
Sementara itu, pilar Production Growth bertujuan mempercepat pertumbuhan produksi melalui pengembangan struktur baru dan kegiatan eksplorasi di wilayah prospektif seperti Astrea, Pinang East, dan Mustang Hitam. Area ini telah memberikan tambahan produksi sekitar 1.000–2.000 barel minyak per hari. PHR juga memperkuat eksplorasi di cekungan matang dan wilayah kerja baru, didukung pembangunan infrastruktur, serta mengembangkan ekosistem Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai pendorong pertumbuhan bisnis masa depan.
Sejalan dengan upaya menjaga dan meningkatkan produksi, PHR mempercepat transformasi menuju perusahaan energi berkelanjutan melalui pilar Energy Transition. Fokusnya adalah mengoptimalkan potensi cadangan gas sebagai energi transisi, memperkuat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), dan menjalankan inisiatif dekarbonisasi. Hal ini membuka peluang pengembangan bisnis berbasis gas yang mendukung bauran energi nasional.
Untuk memastikan ketangguhan menghadapi dinamika industri energi global, PHR mengedepankan pilar Competitiveness. Strategi ini mencakup cost leadership, percepatan transformasi digital, dan optimalisasi proses bisnis guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keunggulan operasional. Pilar Value Added & New Business berfokus pada penciptaan nilai tambah dan pengembangan peluang usaha baru, termasuk penyediaan layanan Carbon Capture and Storage (CCS), optimalisasi logistik, peningkatan efisiensi energi, serta pemanfaatan kalkulator karbon.
Keseluruhan strategi ini ditopang oleh fondasi organisasi yang kuat, meliputi transformasi digital, penerapan HSSE dan prinsip keberlanjutan, pengembangan sumber daya manusia, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), manajemen risiko, serta penguatan hubungan dengan para pemangku kepentingan dan pemberdayaan masyarakat.
Hingga Juni 2026, Regional 1 telah menyelesaikan tiga sumur eksplorasi, merealisasikan 163 sumur eksploitasi, menambah cadangan P1 sebesar 6,26 MMBOE, serta membukukan temuan sumber daya 2C sebesar 16,49 MMBOE.
Pada semester pertama 2026, Regional 1 berkontribusi sekitar 31% terhadap lifting minyak nasional atau sekitar 177 ribu barel minyak per hari (MBOPD). Kontribusinya mencapai 39% produksi minyak dan 27% produksi gas Subholding Upstream Pertamina. Produksi minyak tercatat 178,03 MBOPD (87% dari target) dan produksi gas 746,80 MMSCFD (98% dari target). Lifting minyak mencapai 177,47 MBOPD (86% dari target) dan lifting gas 545,25 MMSCFD (98% dari target).
Dari sisi operasional, perusahaan mencatat kinerja proyek positif dengan Schedule Performance Index (SPI) 0,960 dan Cost Performance Index (CPI) 1,133. Akuisisi seismik 3D mencapai 140 kilometer persegi (140% dari target), sementara program workover dan well service terus dipercepat.
Dari sisi HSSE, hingga Juni 2026, Regional 1 mencatatkan zero fatality, Total Recordable Injury Rate (TRIR) 0,00, serta 74,97 juta jam kerja aman, yang menjadi fondasi operasi yang andal dan berkelanjutan.
Arifin menambahkan, inovasi teknologi seperti digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), otomasi, serta pengembangan CEOR dan MNK sangat penting. “Kami meyakini kombinasi inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta eksplorasi agresif akan menjadi kunci menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan mature sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Arifin.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.