— PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan laba bersih sebesar US$ 150 juta hingga US$ 160 juta pada tahun 2026. Target ini didorong oleh pertumbuhan produksi listrik panas bumi serta kontribusi dari aset-aset baru yang beroperasi. Selain itu, PGEO juga mulai mengembangkan sumber pendapatan baru melalui proyek green hydrogen yang dijadwalkan beroperasi pada kuartal IV-2026.

Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hutabarat, menyatakan bahwa target laba tersebut didasarkan pada kinerja positif yang dicapai pada semester I-2026, yang menunjukkan pertumbuhan laba dua digit. “Kalau melihat realisasi semester pertama, mungkin dikali dua, kurang lebih di level itu target net income kami. Untuk pendapatan semester pertama sekitar US$ 235 juta, sehingga target sepanjang tahun sekitar US$ 455 juta,” jelas Fransetya usai konferensi pers di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Pada periode Januari-Juni 2026, PGEO berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 79,6 juta, meningkat 15,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 68,9 juta. Pendapatan perusahaan juga tercatat tumbuh 14,7% menjadi US$ 235 juta.

Peningkatan laba ini ditopang oleh kenaikan produksi listrik panas bumi yang mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), atau naik 13,6% secara tahunan. Pertumbuhan produksi didorong oleh kontribusi dari wilayah operasi seperti Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta beroperasinya penuh Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW sejak pertengahan 2025.

Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, menambahkan bahwa peningkatan produksi berasal dari optimalisasi operasi di hampir seluruh wilayah kerja. “Ada kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi komersial pada akhir Juni 2025,” katanya.

Ia juga memaparkan bahwa pengelolaan reservoir yang disiplin, pemeliharaan terencana, dan koordinasi antarwilayah operasi turut menjaga kinerja pembangkit. Hingga semester I-2026, availability factor PGEO mencapai 99,7%, capacity factor sebesar 90,4%, dan unplanned outage rate hanya 0,11%. Angka capacity factor ini jauh di atas rata-rata industri panas bumi global yang berkisar antara 75%-80%.

Sementara itu, laba kotor PGEO meningkat 8,11% menjadi US$ 130,44 juta. Namun, gross profit margin (GPM) mengalami penurunan dari 58,9% menjadi 55,5%. Fransetya menjelaskan penurunan margin ini bukan karena melemahnya operasional, melainkan akibat meningkatnya beban penyusutan setelah aset baru beroperasi. “Depresiasi dari proyek Lumut Balai Unit 2 sudah masuk, tetapi gross profit margin masih berada di level yang cukup tinggi sekitar 55,5%,” ujarnya.

Di sisi lain, EBITDA naik 9,41% menjadi US$ 184,02 juta, meskipun EBITDA margin turun dari 82,1% menjadi 78,3%. Menurut Fransetya, kemampuan mempertahankan EBITDA margin mendekati 80% menunjukkan fundamental perusahaan yang masih sangat kuat.

Dari sisi neraca, PGEO memiliki total aset sebesar US$ 2,97 miliar dengan total liabilitas US$ 961,18 juta. Belanja modal (capital expenditure/capex) yang telah direalisasikan sepanjang semester I-2026 mencapai US$ 23,8 juta, naik 8,82% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar capex dialokasikan untuk pengembangan proyek sebesar US$ 13,6 juta (naik 31,47%), sementara belanja pemeliharaan mencapai US$ 10,16 juta.

Sumber Pendapatan Baru

Selain memperkuat bisnis inti panas bumi, PGEO mulai mempercepat pengembangan green hydrogen sebagai sumber pendapatan baru di luar penjualan listrik. Presiden Direktur PGEO, Ahmad Yani, mengatakan proyek percontohan (pilot project) green hydrogen di Wilayah Kerja Ulubelu, Lampung, ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026. Proyek ini telah memasuki tahap fabrikasi dan akan dilanjutkan dengan pemasangan peralatan pada Oktober mendatang.

“Kami melihat masa depan geothermal bukan hanya menghasilkan listrik, tetapi juga produk lain yang dapat dikembangkan seperti green hydrogen,” ujar Ahmad Yani. Pada tahap awal, fasilitas ini ditargetkan mampu memproduksi sekitar 100 kilogram hidrogen hijau per hari.

Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa Toyota telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk membeli sekitar 20 kilogram green hydrogen sebagai pengguna awal. Sisa produksi akan dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Grup Pertamina, termasuk Kilang Plaju dan Terminal LPG Tanjung Sekong.

Ahmad Yani menilai pengembangan green hydrogen merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha sekaligus hilirisasi energi panas bumi. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, PGEO akan menguji kelayakan bisnis hidrogen hijau seiring perkembangan ekosistem dan permintaan pasar. Perseroan juga tengah mengkaji pengembangan green ammonia sebagai produk turunan hidrogen hijau.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, menyatakan bahwa studi mengenai potensi pengolahan green hydrogen menjadi green ammonia terus berjalan. “Kajiannya sudah berlangsung,” ujar Edwil.

Manajemen PGEO optimistis prospek pasar hidrogen global akan semakin berkembang pada periode 2030-2034, yang diharapkan dapat menjadi salah satu pilar pertumbuhan jangka panjang perseroan di luar bisnis pembangkitan listrik panas bumi.