— JAKARTA – PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) berhasil menopang kinerjanya pada paruh pertama tahun 2026 melalui segmen perjalanan bisnis korporasi. Kontribusi corporate travel menjadi penyelamat pendapatan emiten pariwisata ini di saat segmen perjalanan wisata atau leisure menghadapi tekanan akibat gejolak geopolitik global.

Sepanjang semester I-2026, Panorama mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,0 triliun, naik 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) yang mencapai Rp1,8 triliun. Pertumbuhan pendapatan ini diraih holding Grup Panorama di tengah tantangan yang timbul dari meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Corporate Secretary Panorama, AB Sadewa, menjelaskan bahwa paruh pertama tahun ini merupakan periode yang penuh tantangan bagi industri pariwisata global. Namun, model bisnis Panorama yang seimbang antara segmen leisure dan corporate travel memungkinkan perusahaan untuk tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan. “Kami melihat kebutuhan perjalanan bisnis korporasi tetap terjaga sehingga mampu menjadi penopang kinerja di tengah perlambatan permintaan wisata,” ujar Sadewa dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Sadewa menambahkan, ketegangan geopolitik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 menekan kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan internasional. Hal ini turut memengaruhi permintaan wisata pada momentum libur Lebaran dan awal musim libur sekolah. Konflik tersebut juga menyebabkan kenaikan harga energi, termasuk aviation fuel (avtur), yang berdampak pada peningkatan biaya operasional maskapai penerbangan global.

Akibatnya, industri perjalanan di seluruh dunia merasakan dampaknya, baik dari sisi biaya operasional maupun melemahnya minat masyarakat untuk bepergian. “Di tengah kondisi tersebut, segmen corporate travel yang melayani perjalanan dinas dan bisnis korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan Panorama. Sebaliknya, segmen leisure, baik outbound maupun inbound, menghadapi perlambatan akibat turunnya permintaan wisata di sejumlah pasar sehingga pertumbuhannya tidak sekuat periode sebelumnya,” ungkapnya.

Meskipun pendapatan naik 16% yoy, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PANR justru mengalami penurunan 16,65% yoy menjadi Rp34,06 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh membengkaknya beban pokok pendapatan dari Rp1,63 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp1,91 triliun, serta penurunan laba neto entitas asosiasi, laba selisih kurs, dan pos lainnya.

Menghadapi semester II-2026, Panorama memperkirakan prospek industri pariwisata akan membaik seiring dengan meredanya ketidakpastian geopolitik dan pulihnya kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan. “Perseroan menilai permintaan pada segmen leisure berpotensi meningkat kembali, didukung hadirnya berbagai destinasi wisata internasional baru,” kata Sadewa.

Sadewa menegaskan, fokus perseroan pada semester kedua adalah menangkap momentum pemulihan pasar leisure. Selain menghadirkan lebih banyak pilihan destinasi yang menarik, Panorama juga terus berinvestasi pada kualitas layanan demi menjaga pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama. “Dengan fundamental bisnis yang terdiversifikasi, jaringan internasional yang luas, serta fokus pada peningkatan kualitas layanan, Panorama optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan usaha dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham di tengah dinamika industri pariwisata global,” pungkasnya.