Detak Media — JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan berhasil meraup pendapatan usaha neto sebesar Rp 1,57 triliun, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 206% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 513,45 miliar.
Peningkatan pendapatan ini tercantum dalam laporan keuangan perseroan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok perusahaan juga mengalami lonjakan hingga 412%, dari Rp 121,10 miliar menjadi Rp 620,31 miliar. Hal ini berdampak pada laba bruto yang melonjak 142% menjadi Rp 950,58 miliar, naik dari Rp 392,35 miliar pada semester I-2025.
Laba usaha perseroan juga tercatat meningkat menjadi Rp 773,22 miliar pada semester I-2026, dibandingkan dengan Rp 378,96 miliar pada enam bulan pertama tahun 2025. Namun, biaya keuangan perseroan mengalami kenaikan signifikan dari Rp 87,24 miliar menjadi Rp 274,21 miliar. Meskipun demikian, laba sebelum pajak tetap tumbuh menjadi Rp 539 miliar dari Rp 293,5 miliar di semester I-2025.
Secara keseluruhan, Solusi Sinergi Digital (WIFI) berhasil membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 331,16 miliar. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 45% dari Rp 227,91 miliar pada semester I-2025.
Dalam laporan yang sama, total aset perseroan per 30 Juni 2026 mencapai Rp 20,94 triliun, melonjak 38,11% dari total aset per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp 15,16 triliun. Peningkatan aset ini terutama didorong oleh bertambahnya kas dan setara kas yang berasal dari penerbitan obligasi dan sukuk. Di sisi lain, total liabilitas perseroan juga meningkat tajam sebesar 79,45% menjadi Rp 11,93 triliun per 30 Juni 2026, dari Rp 6,65 triliun pada akhir tahun 2025.
Direktur Utama WIFI, Hendrik Tee, menjelaskan bahwa kenaikan total liabilitas tersebut juga disebabkan oleh penerbitan obligasi dan sukuk. Per 30 Juni 2026, utang obligasi WIFI tercatat sebesar Rp 2,53 triliun dan sukuk sebesar Rp 2,18 triliun.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.