Microsoft mengumumkan peluncuran serangkaian teknologi keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mengatasi potensi risiko keamanan, terutama terkait agen AI. Langkah ini diambil menyusul insiden keamanan siber yang melibatkan model AI OpenAI yang sempat meretas platform Hugging Face.

Teknologi baru ini, yang diberi nama Microsoft AI-Cyber-1-Flash (MAI-Cyber-1 Flash), merupakan model AI pertama yang secara khusus dilatih untuk mengidentifikasi dan memperbaiki celah keamanan dalam perangkat lunak. Meskipun Microsoft tidak secara eksplisit mengaitkannya dengan insiden OpenAI, pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa agen AI yang semakin canggih dapat bertindak di luar kendali jika berhasil memanfaatkan kerentanan keamanan.

MAI-Cyber-1 Flash: “Satpam Digital” dari Microsoft

Berbeda dengan AI yang berfokus pada pembuatan konten atau menjawab pertanyaan, MAI-Cyber-1 Flash bertindak sebagai “satpam digital”. Tugas utamanya adalah mencari, menguji, dan membantu menutup celah keamanan sebelum dapat dieksploitasi oleh AI lain maupun peretas.

Model AI ini dikembangkan di atas platform MAI-Thinking-1 milik Microsoft dan dilatih menggunakan data berkualitas tinggi yang dikumpulkan dari pengalaman puluhan tahun perusahaan dalam menangani insiden keamanan dan memperbaiki kerentanan produk. Microsoft melatih MAI-Cyber-1 Flash dengan lebih dari satu triliun sinyal keamanan setiap hari dari sekitar 1,6 juta pelanggan global.

“Karena kami dapat menghubungkan tindakan dengan hasil, apa yang bisa dieksploitasi, apa yang berhasil diatasi, apa yang diblokir dan apa yang benar-benar berhasil. Kami punya lebih dari sekadar data,” ungkap Microsoft, menekankan kedalaman data yang digunakan untuk pelatihan.

MAI-Cyber-1 Flash juga terintegrasi dengan MDASH (Multi-model Agentic Scanning Harness), sebuah sistem pemindaian keamanan yang diluncurkan Microsoft pada Mei 2026. MDASH menggabungkan sekitar 100 agen AI yang bekerja sama untuk menemukan bug atau celah keamanan. Kombinasi MAI-Cyber-1 Flash dan MDASH dilaporkan meraih skor 96 persen pada pengujian standar CyberGYM, melampaui model keamanan siber AI dari Anthropic, Google, dan OpenAI. Biaya operasional MDASH versi terbaru juga diklaim hanya setengah dari versi sebelumnya.

Project Perception: Pendekatan Keamanan Siber Berlapis

Selain MAI-Cyber-1 Flash, Microsoft turut memperkenalkan Project Perception. Platform ini memanfaatkan sejumlah agen AI dengan peran berbeda dalam proses keamanan siber. Agen AI dalam platform ini terbagi menjadi tim merah (red team) untuk mencari celah keamanan, tim biru (blue team) untuk menyelidiki tingkat risiko, dan tim hijau (green team) untuk memberikan rekomendasi perbaikan.

Project Perception dapat memilih model AI yang paling sesuai untuk setiap tugas berdasarkan efektivitas dan biaya. Microsoft mengklaim platform ini mampu menangani sekitar 90 persen tugas keamanan siber dengan biaya lebih rendah dibandingkan solusi kompetitor. Untuk tugas yang lebih kompleks, pengguna masih dapat memanfaatkan model AI lain yang lebih sesuai.

Rangkaian alat AI ini dihadirkan sebagai respons Microsoft terhadap pergeseran cara organisasi mengamankan jaringan mereka dari peretasan. AI dinilai memungkinkan penjahat siber melancarkan serangan dengan kecepatan dan skala yang jauh lebih besar, sehingga tim keamanan harus mengelola volume data yang semakin besar dan merespons ancaman dengan lebih cepat.

“Tim keamanan seringkali dipaksa untuk menyusun sinyal, konteks dan insight risiko di antara sejumlah besar data, sehingga kian sulit mengikuti perkembangan ancaman yang muncul,” ujar Microsoft.

Saat ini, MAI-Cyber-1 Flash dan Project Perception masih tersedia dalam versi pratinjau dan belum dirilis secara umum untuk seluruh pelanggan.