— JAKARTA – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berhasil memetik buah dari strategi diversifikasi bisnisnya yang merambah segmen emas, tembaga, dan nikel. Ekspansi portofolio ini terbukti menjadi pilar utama pertumbuhan perseroan di tengah fluktuasi industri pertambangan.

Presiden Direktur MDKA Albert Saputro menyatakan, perusahaan mencatat kuartal yang penting seiring kemajuan diversifikasi portofolio yang terus bergerak maju ke segmen emas, tembaga, dan nikel. Ia merinci, tambang emas Tujuh Bukit (TB Gold) tetap menjadi basis operasi yang kokoh, Pani bergerak menuju produksi dengan volume lebih tinggi, dan Wetar menunjukkan perbaikan margin. Selain itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terus mengembangkan platform nikel terintegrasinya.

Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari penjualan emas yang mencapai 36.574 ounce (oz). Angka ini terdiri atas 30.135 oz dari Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) dan 6.439 oz dari Tambang Emas Pani. Dengan harga jual rata-rata US$4.511 per ounce, penjualan emas menghasilkan pendapatan sekitar US$165 juta.

TB Gold menjadi tulang punggung operasi MDKA dengan produksi 24.567 oz emas selama kuartal II-2026. Penjualan emas dari tambang ini tercatat meningkat 23% dibanding kuartal sebelumnya menjadi 30.135 oz.

Di sisi lain, Tambang Emas Pani menunjukkan perkembangan signifikan setelah memasuki fase ramp-up sejak operasi heap leach dimulai pada kuartal I-2026. Produksi emas melonjak menjadi 15.594 oz, jauh meningkat dibandingkan hanya 1.818 oz pada kuartal sebelumnya.

Perusahaan juga mencatat perbaikan kinerja di Tambang Tembaga Wetar. Produksi tembaga mencapai 1.484 ton, sementara penjualan meningkat menjadi 1.924 ton dengan harga jual rata-rata US$5,83 per pon. Optimalisasi pemulihan tembaga melalui perbaikan operasi heap leach berhasil meningkatkan profitabilitas. Hal ini terlihat dari penurunan cash cost menjadi US$2,27 per pon, sedangkan all-in sustaining cost (AISC) membaik menjadi US$2,80 per pon.

Sementara itu, lini bisnis nikel yang dijalankan anak usaha, MBMA, terus mencatatkan pertumbuhan operasional. Produksi bijih saprolit meningkat 130% secara tahunan, sedangkan limonit naik 87%. Produksi Nickel Pig Iron (NPI) turut tumbuh sebesar 16% menjadi 19.505 ton nikel. Pada segmen hilir, produksi High Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai 9.165 ton setara nikel, sedangkan penjualannya meningkat 30% dibanding kuartal sebelumnya menjadi 10.457 ton.

MDKA juga terus mempercepat pengembangan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL). Hal ini terlihat dari produksi PT ESG New Energy Material yang mencapai 4.831 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Sementara proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) terus berjalan dengan target penjualan perdana MHP pada semester II-2026.

Di luar itu, proyek strategis Tujuh Bukit Copper (TB Copper) kini memasuki tahap feasibility study setelah menyelesaikan sejumlah pekerjaan optimalisasi pasca pre-feasibility study. Proyek ini dikembangkan melalui kombinasi tambang terbuka dan tambang bawah tanah sebagai salah satu aset pertumbuhan jangka panjang MDKA.

Albert menambahkan, pencatatan sekunder saham anak usaha, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), di Main Board Hong Kong Stock Exchange (HKEX) semakin memperkuat akses EMAS terhadap pendanaan internasional untuk mengembangkan Tambang Emas Pani. “Kami fokus pada eksekusi yang disiplin, melanjutkan ramp-up Pani dan mengembangkan TB Copper melalui tahap feasibility study,” paparnya.