Detak Media — TANGERANG – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah tidak memosisikan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) sebagai lawan dari teknologi otomotif lain dalam agenda transisi energi nasional. Sebaliknya, pemerintah mengedepankan pendekatan multijalur agar seluruh teknologi yang berkembang dapat diproduksi di dalam negeri dan memperkuat daya saing industri nasional.
Pernyataan ini disampaikan Agus saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada Rabu (30/7/2026). Ia mengungkapkan bahwa transformasi menuju kendaraan rendah emisi berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Sepanjang semester I-2026, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 117.000 unit, meningkat 69,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini setara dengan 26,8% dari total penjualan kendaraan penumpang nasional, dengan 69.000 unit di antaranya merupakan BEV.
“Artinya hari ini satu dari setiap empat mobil penumpang yang dibeli masyarakat Indonesia sudah merupakan kendaraan elektrifikasi. Padahal lima tahun yang lalu angka itu belum terbaca sama sekali,” ujar Agus.
Meskipun penjualan kendaraan listrik terus meningkat, Agus menegaskan pemerintah tidak memosisikan BEV sebagai pesaing kendaraan hibrida maupun kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) yang semakin efisien. Menurutnya, seluruh teknologi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menekan emisi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kami tidak dalam posisi untuk menempatkan satu teknologi sebagai lawan dari teknologi yang lain. Kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hibrida, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, pemanfaatan biodiesel maupun bioetanol, seluruhnya adalah jalan menuju tujuan yang sama, yaitu emisi yang lebih rendah dan ketahanan energi yang lebih kuat,” katanya.
Agus menambahkan, pemerintah lebih menekankan pencapaian target pengurangan emisi daripada menyeragamkan teknologi yang digunakan. “Yang kita percepat adalah tujuannya, bukan penyeragaman caranya,” ujarnya.
Menurut Agus, isu strategis bagi Indonesia bukan sekadar menentukan teknologi yang akan mendominasi pasar otomotif dalam satu dekade mendatang. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut dapat diproduksi oleh industri nasional.
“Pertanyaan sesungguhnya adalah berapa besar bagian dari teknologi tersebut dibuat sendiri oleh anak-anak bangsa,” katanya.
Meski menerapkan strategi multijalur, pemerintah tetap memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan BEV. Hal itu didukung oleh keunggulan Indonesia yang memiliki cadangan nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Karena itu, kebijakan dan insentif pemerintah akan diarahkan untuk mendorong investasi dan produksi BEV berbasis sumber daya alam domestik sehingga nilai tambah industri tetap berada di dalam negeri.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.