— Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXV Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) telah merumuskan serangkaian rekomendasi strategis yang bertujuan untuk mempercepat realisasi investasi nasional. HKI berharap dapat menyampaikan hasil rekomendasi ini secara langsung kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Berdasarkan pengalaman para pengelola kawasan industri (KI) di seluruh Indonesia, Rakernas menyimpulkan bahwa tantangan terbesar investasi di Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menarik minat investor. Tantangan utamanya adalah memastikan komitmen investasi yang telah ada benar-benar terwujud menjadi pembangunan pabrik, kegiatan produksi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta penguatan struktur industri nasional.

Menindaklanjuti hasil Rakernas, HKI telah mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memohon kesempatan memaparkan secara langsung berbagai rekomendasi yang telah dirumuskan. HKI meyakini bahwa pengalaman praktis para pengelola KI yang berinteraksi langsung dengan investor setiap hari dapat memberikan masukan yang implementatif untuk mempercepat industrialisasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan investasi global yang semakin ketat.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyatakan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki hampir seluruh modal yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di kawasan Asia. Pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, posisi strategis dalam rantai pasok global, serta komitmen pemerintah terhadap agenda hilirisasi merupakan kekuatan yang sangat besar.

Namun, Akhmad menegaskan bahwa seluruh keunggulan tersebut hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan apabila ditopang oleh kepastian regulasi, kecepatan pelayanan, dan kemampuan untuk secara konsisten mengatasi berbagai hambatan investasi.

“Hal yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana minat investasi itu dapat segera berubah menjadi pembangunan pabrik, kegiatan produksi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, kami berharap dapat menyampaikan langsung kepada Presiden berbagai rekomendasi yang lahir dari pengalaman nyata para pengelola kawasan industri di seluruh Indonesia,” ujar Akhmad.

Menurut Ma’ruf, pola pengambilan keputusan investor global telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Investor kini tidak lagi hanya membandingkan ukuran pasar atau melimpahnya sumber daya alam suatu negara.

Investor, kata dia, juga turut menilai kecepatan memperoleh kepastian berusaha, kesiapan lahan, keandalan pasokan listrik dan gas, kualitas infrastruktur logistik, konsistensi regulasi, serta kemampuan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ketika investasi mulai berjalan.

“Investor tidak melihat persoalan berdasarkan kewenangan masing-masing kementerian atau lembaga. Investor melihat Indonesia sebagai tujuan investasi. Karena itu, penyelesaiannya juga harus dilakukan secara terpadu sebagai satu sistem yang memberikan kepastian, kecepatan, dan konsistensi,” tegasnya.

Rakernas XXV HKI sebelumnya telah dibuka oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat itu menjabat Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup) Moh Jumhur Hidayat, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (saat itu menjabat Ketua Dewan Ekonomi Nasional) Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menteri Perindustrian dalam sambutannya menegaskan bahwa kawasan industri (KI) memiliki peran penting sebagai motor transformasi industri nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penguatan daya saing, serta penciptaan lapangan kerja.