Detak Media — JAKARTA – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan kinerja impresif pada semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 182,60 miliar. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 790% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 20,50 miliar.
Dalam keterangan resminya, perusahaan bank digital yang didukung oleh Grab, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank ini menegaskan penguatan posisinya sebagai bank dengan layanan digital berbasis ekosistem di Indonesia.
Hingga akhir semester I-2026, Superbank berhasil melayani lebih dari 7 juta nasabah. Laba sebelum pajak (PBT) perseroan tercatat sebesar Rp 234 miliar, tumbuh 669% secara tahunan (yoy). Total aset Superbank juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 81,5% yoy, mencapai Rp 27 triliun.
Pencapaian ini merupakan cerminan keberhasilan strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang diusung perseroan. Perluasan basis nasabah sejalan dengan peningkatan profitabilitas, efisiensi operasional, dan penguatan kualitas aset.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M Siahaan, menyatakan bahwa semester pertama 2026 menjadi momentum penting. “Strategi berbasis ekosistem yang perseroan bangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset,” ujarnya.
Tigor menambahkan, “Hal ini menunjukkan bahwa kami berhasil membangun pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan. Ke depan, kami akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan, mudah diakses, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah, mitra, serta pemegang saham.”
Mandiri Sekuritas (Mansek) dalam analisanya menyebutkan laba Superbank sebesar Rp 183 miliar pada semester pertama 2026 (1H26) didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 61% (yoy) dan pertumbuhan simpanan sebesar 89% (yoy). Penyaluran kredit langsung mencapai Rp 1,9 triliun pada 1H26 dan diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba serta peningkatan ROE.
Basis nasabah yang melampaui 7 juta per Juni 2026 didukung oleh mitra ekosistem utama seperti Grab dan OVO. Rasio Pengembalian Ekuitas (ROE) pada 1H26 mencapai 4,5%, meningkat dari 0,8% pada 1H25.
Menyikapi kinerja positif ini, Mansek mempertahankan rekomendasi buy untuk saham Superbank (SUPA) dengan target harga Rp 1.300. Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), saham SUPA berada di level Rp 590, yang berarti masih terdapat potensi keuntungan sebesar 120% dari target harga yang ditetapkan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.