— Shell, raksasa energi asal Inggris, melaporkan laba bersih lebih dari dua kali lipat mencapai US$ 9,84 miliar atau sekitar Rp 160 triliun pada kuartal kedua tahun 2026. Capaian ini melampaui ekspektasi analis dan merupakan rekor laba kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan, hanya kalah dari kuartal II-2022 saat invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.

Kinerja keuangan Shell ditopang oleh kenaikan harga minyak dan gas, aktivitas perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) dan minyak mentah yang kuat, serta peningkatan margin produk kimia. Faktor-faktor ini berhasil mengimbangi penurunan volume penjualan yang disebabkan oleh gangguan operasional fasilitas Shell di Qatar.

Laba disesuaikan (adjusted earnings) Shell sebesar US$ 9,84 miliar jauh melampaui proyeksi konsensus analis yang sebesar US$ 8,92 miliar, dan meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$ 4,26 miliar.

Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu disrupsi dan volatilitas tinggi di pasar global. Hal ini memberikan peluang menguntungkan bagi lini bisnis perdagangan (trading) perusahaan minyak berskala besar seperti Shell, BP, dan TotalEnergies.

Sebuah juru bicara Shell mengungkapkan bahwa kilang-kilang minyak perusahaan beroperasi hingga 102% dari kapasitas terpasangnya untuk memanfaatkan lonjakan harga bahan bakar. Langkah strategis ini berhasil meningkatkan produksi bahan bakar avtur (jet fuel) hingga seperlima dibandingkan tahun lalu.

Menanggapi kinerja positif tersebut, saham Shell mengalami penguatan 1,6% pada perdagangan pagi di London, melampaui kenaikan rata-rata sektor energi Eropa yang tercatat sebesar 0,4%.

Cetak Arus Kas Tertinggi dan Penurunan Utang

Selain membukukan laba yang tinggi, Shell juga mencatat arus kas operasional tertinggi sejak tahun 2022. Meskipun demikian, perusahaan memutuskan untuk mempertahankan program pembelian kembali saham (share buyback) senilai US$ 3 miliar untuk tiga bulan ke depan.

Divisi gas terpadu (integrated gas) Shell, yang mencakup meja perdagangan LNG terbesar di dunia, berhasil mencetak laba sebesar US$ 2,7 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 55% secara tahunan (year-on-year), meskipun produksi gasnya secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) mengalami penurunan 31%.

Sementara itu, divisi kimia dan produk olahan mengalami lonjakan tajam menjadi US$ 2,9 miliar dari sebelumnya US$ 118 juta pada tahun lalu, mencatatkan laba kuartalan tertinggi sejak tahun 2021.

Dalam aspek finansial, utang bersih (net debt) Shell berhasil ditekan menjadi US$ 41,8 miliar dari posisi US$ 52,6 miliar pada akhir kuartal pertama 2026. Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) juga menunjukkan perbaikan, dari 23,2% menjadi 18,7%.

Proyeksi Kuartal Ketiga dan Tantangan Operasional di Qatar

Untuk kuartal III-2026, Shell memproyeksikan produksi gas terpadu berada di kisaran 570.000 hingga 630.000 barel setara minyak per hari (boed), sedikit mengalami penurunan dari 631.000 boed pada kuartal kedua. Volume likuifaksi LNG diproyeksikan sebesar 7,1 juta hingga 7,7 juta ton.

Produksi hulu (upstream) diperkirakan mencapai 1,68 juta hingga 1,88 juta boed seiring dengan masuknya jadwal perawatan berkala. Gangguan operasional masih membayangi fasilitas pemrosesan gas Pearl gas-to-liquids di Qatar yang terhenti sejak Maret akibat kerusakan salah satu dari dua unit (train) produksinya akibat serangan. Perbaikan fasilitas ini diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun.

Meskipun demikian, kapasitas yang hilang sementara diimbangi oleh peningkatan produksi dari fasilitas di Kanada, Nigeria, dan Australia. Timur Tengah menyumbang sekitar 20% dari total produksi minyak dan gas Shell, di mana sekitar 10% di antaranya terhubung dengan fasilitas di Qatar.

Harga rata-rata minyak mentah acuan Brent selama kuartal II-2026 tercatat berada di kisaran US$ 97 per barel, sementara harga gas acuan Eropa rata-rata 46 euro per megawatt-jam. Keduanya melonjak tajam dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Pasar energi global menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap dinamika geopolitik, khususnya konflik yang melibatkan negara-negara produsen utama di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz, jalur logistik minyak terpenting dunia. Eskalasi militer yang melibatkan AS, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran atas terganggunya rantai pasok energi global, yang secara otomatis mendorong lonjakan harga minyak mentah dan gas alam.

Bagi perusahaan energi multinasional seperti Shell, kondisi volatilitas pasar dan margin harga yang melambung tinggi membuka celah keuntungan besar melalui divisi perdagangan (trading) dan optimalisasi kapasitas kilang. Namun, konflik geopolitik juga membawa risiko kerentanan infrastruktur fisik, sebagaimana tercermin dari gangguan fasilitas pengolahan gas milik Shell di Qatar.