Detak Media — PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) melaporkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 697,75 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 21,18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Pertumbuhan kinerja keuangan ini ditopang oleh penurunan biaya dana, pengelolaan biaya operasional yang lebih efisien, serta ekspansi portofolio pembiayaan.
Berdasarkan keterangan resmi perseroan, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mengalami kenaikan 3,9% dibandingkan semester I-2025. Peningkatan ini didukung oleh keberhasilan menekan beban bunga, yang turut mendorong net interest margin (NIM) mencapai 4,3% pada semester I-2026. Di sisi lain, pendapatan non-bunga atau non-interest income (NOII) mengalami penurunan 5,4% secara tahunan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya kontribusi dari lini Global Markets (GM) yang sensitif terhadap volatilitas pasar dan ketidakpastian geopolitik global.
Meskipun demikian, pelemahan NOII sebagian besar berhasil diimbangi oleh lonjakan pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) sebesar 8%. Kenaikan FBI ini didorong oleh performa positif dari layanan wealth management yang tumbuh 39%, pembiayaan otomotif sebesar 27,5%, dan layanan perbankan ritel yang melesat 54,3%. Secara agregat, gross operating income (GOI) tercatat naik 1,9% menjadi Rp 4,64 triliun.
Bank Maybank Indonesia juga menunjukkan komitmennya dalam menjaga efisiensi operasional. Beban operasional hanya tercatat meningkat sebesar 0,8%, sehingga laba operasional sebelum pencadangan berhasil dikerek naik 4,7% menjadi Rp 1,29 triliun. Lebih lanjut, beban pencadangan turut mengalami penurunan sebesar 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam hal kualitas aset, Maybank Indonesia mencatatkan perbaikan yang cukup berarti. Rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,1%, sementara NPL net berada di angka 1,3% per Juni 2026. Posisi ini menunjukkan peningkatan dibandingkan Juni 2025, di mana rasio NPL gross dan net masing-masing berada di 2,4% dan 1,5%.
Dari sisi penyaluran kredit, segmen Global Banking (GB) mencatat pertumbuhan sebesar 5% menjadi Rp 54,98 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pembiayaan pada segmen Large Local Corporates (LLC) yang mencapai 18% dan segmen Business Banking yang tumbuh 24,3%. Sementara itu, portofolio kredit Community Financial Services (CFS) juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan 2,9% menjadi Rp 71,30 triliun. Pertumbuhan CFS didukung oleh kenaikan kredit SME+ sebesar 14,4%, pembiayaan otomotif melalui anak usaha yang naik 6,5%, serta bisnis kartu kredit dan kredit tanpa agunan (KTA) yang mengalami pertumbuhan 11,2%.
Secara keseluruhan, total kredit yang disalurkan oleh Maybank Indonesia hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp 126,28 triliun, naik 3,8% secara tahunan. Total aset bank juga mengalami peningkatan sebesar 15,6% menjadi Rp 213,81 triliun.
CASA Menguat, Modal dan Likuiditas Tetap Kokoh
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh positif sebesar 8,2% menjadi Rp 124,10 triliun. Pertumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan dana murah atau current account saving account (CASA) yang mencapai 22,4%. Rinciannya, giro meningkat 32,1% dan tabungan naik 4,8%. Di sisi lain, deposito berjangka mengalami penurunan 10,1%, sejalan dengan strategi optimalisasi struktur pendanaan perseroan. Akibatnya, rasio CASA mengalami peningkatan signifikan menjadi 63,6% dari sebelumnya 56,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi permodalan, Maybank Indonesia berhasil mempertahankan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 23,2%. Posisi likuiditas bank juga terpantau kuat, dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) di angka 86,6%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 138,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 110,7%.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menyatakan bahwa capaian pada semester I-2026 merupakan bukti konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis, terutama di tengah kondisi kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global. “Kinerja ini mencerminkan kekuatan bisnis inti perbankan kami serta pelaksanaan prioritas strategis secara disiplin di tengah kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar domestik. Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan di segmen korporasi dan UKM sejalan dengan strategi ROAR30, dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang prudent serta menjaga kualitas aset yang sehat,” ujar Steffano.
Sementara itu, Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menilai kinerja perseroan menunjukkan ketangguhan model bisnis dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi nasional. “Maybank Indonesia berada pada posisi yang semakin kuat untuk menangkap peluang pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik serta penerapan manajemen risiko dan pengelolaan kualitas aset yang prudent. Berpijak pada strategi ROAR30 dan integrasi entitas jasa keuangan Maybank di Indonesia, Maybank Indonesia siap menghadirkan solusi keuangan yang terintegrasi bagi nasabah serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Dato’ Sri Khairussaleh Ramli.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.