— JAKARTA – Kinerja PT Timah Tbk (TINS) di semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan signifikan, menurut ulasan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS). Pendapatan TINS melonjak 247% year on year (yoy) menjadi Rp 10,42 triliun pada enam bulan pertama 2026, naik dari Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian paling mencolok adalah laba bersih yang meroket 805% menjadi Rp 2,71 triliun, melampaui target awal yang ditetapkan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan laba bersih Rp 300 miliar pada semester I-2025. “Ini lonjakan luar biasa, sudah melampaui target FY26F,” papar BRIDS dalam risetnya, Rabu (29/7/2026).

Peningkatan kinerja ini didukung oleh kenaikan produksi bijih timah sebesar 75% yoy menjadi 12.232 ton Sn dan volume penjualan logam timah yang tumbuh 85% yoy mencapai 10.984 MT. Total aset perusahaan juga bertambah 21% year to date (ytd) menjadi Rp 16,45 triliun, dengan ekuitas tumbuh 25% ytd mencapai Rp 10,55 triliun. Mayoritas penjualan, yaitu 97%, berasal dari pasar ekspor yang didominasi oleh China (48%), India (11%), dan Korea Selatan (10%).

Menurut BRIDS, faktor utama di balik performa gemilang Timah adalah harga rata-rata logam timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 yang mencapai US$ 50.319 per metrik ton. Angka ini menunjukkan kenaikan 56,68% yoy dan berada pada level premium.

Kondisi pasar global yang masih mengalami defisit pasokan timah juga turut berkontribusi. “Pasar global masih defisit 5.720 ton (produksi 173.536 vs konsumsi 179.256 ton per CRU Tin Monitor),” sebut BRIDS.

BRIDS menyatakan bahwa realisasi untuk paruh kedua 2026 hanya memerlukan pengiriman marjinal untuk mencapai prakiraan perusahaan sebesar Rp 3,36 triliun di akhir tahun 2026. Namun, risiko utama yang masih membayangi adalah potensi kenaikan tarif royalti, meskipun belum diimplementasikan, hal ini menjadi beban kekhawatiran yang besar.

Dari sisi valuasi, BRIDS menilai saham TINS sangat menarik. Price to Earnings (P/E) annualized untuk semester I-2026 (dikalikan dua) saat ini berada di angka 6,7 kali. Angka ini dianggap sangat murah mengingat pertumbuhan laba yang mencapai 805% yoy.

Berdasarkan analisis tersebut, BRIDS merekomendasikan investor untuk melakukan aksi beli saham TINS dengan target harga Rp 4.500. Target ini didasarkan pada P/E 10 kali untuk tahun fiskal 2026, yang berada dua standar deviasi di bawah rata-rata historis. Pada saat berita ini disusun, harga saham TINS diperdagangkan di level Rp 3.490.