Detak Media — JAKARTA – PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada semester I-2026, dengan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 2,7 triliun. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 804% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya sebesar Rp 300 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berhasil meraup laba bersih Rp 364 per saham. Angka ini melesat jauh dibandingkan Rp 40 per saham pada enam bulan pertama tahun 2025, mencerminkan peningkatan profitabilitas yang substansial.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 10,42 triliun pada semester I-2026, sebuah peningkatan 247% dari Rp 4,22 triliun pada semester I-2025. Kenaikan pendapatan ini didorong oleh kombinasi peningkatan volume penjualan dan penguatan harga jual rata-rata logam timah, yang didukung oleh kondisi pasar yang masih kondusif.
Manajemen PT Timah menyatakan bahwa laba bersih Rp 2,71 triliun pada semester I-2026 telah melampaui target laba bersih perseroan tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 1,61 triliun, atau mencapai 169% dari target yang dicanangkan.
Dari sisi kesehatan finansial, nilai aset perseroan mengalami peningkatan sebesar 21% menjadi Rp 16,45 triliun pada semester I-2026, dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025 yang tercatat Rp 13,64 triliun. Posisi liabilitas tercatat sebesar Rp 5,90 triliun, meningkat 13% dari Rp 5,23 triliun di akhir tahun 2025. Sementara itu, ekuitas perseroan menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 25% menjadi Rp 10,55 triliun dari Rp 8,41 triliun pada akhir tahun 2025, yang didukung oleh pencapaian laba bersih selama semester I-2026.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, mengungkapkan bahwa kinerja pada semester I-2026 membuktikan efektivitas strategi transformasi operasional dan bisnis yang dijalankan perseroan. Menurutnya, strategi tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan berkualitas di tengah dinamika industri global.
“Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut,” papar Restu dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Ke depan, Restu menambahkan, perseroan berkomitmen untuk terus memperkuat fundamental usaha. Langkah ini akan dilakukan melalui kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan, penguatan tata kelola pertambangan, serta peningkatan efisiensi operasional. Tujuannya adalah untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan.
Kondisi Pasar Timah Global
Pasar timah global sepanjang semester I-2026 menunjukkan fundamental yang tetap solid, meskipun dihadapkan pada dinamika ekonomi dan ketidakpastian geopolitik global, serta perkembangan kebijakan perdagangan internasional yang memengaruhi sentimen pasar.
Manajemen PT Timah mengamati bahwa harga timah tetap berada pada level yang tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh kondisi pasokan global yang masih ketat akibat terbatasnya produksi tambang di sejumlah negara produsen utama.
Harga rata-rata logam timah, berdasarkan Cash Settlement Price di London Metal Exchange (LME), selama semester I-2026 tercatat sebesar US$ 50.319,19 per metrik ton. Angka ini meningkat 56,68% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 32.115,77 per metrik ton.
Penguatan harga tersebut mencerminkan fundamental pasar timah yang tetap solid, meskipun pergerakannya masih dipengaruhi oleh dinamika pasokan serta perkembangan kondisi ekonomi global.
Seiring berjalannya semester I-2026, kondisi pasokan timah global mulai menunjukkan perbaikan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya persediaan logam di gudang LME serta pemulihan produksi di beberapa wilayah. Persediaan timah di gudang LME pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 8.575 ton, meningkat 58,36% dibandingkan posisi awal tahun 2026 yang sebesar 5.415 ton.
Dari sisi permintaan, fundamental pasar timah global tetap terjaga. Struktur konsumsi masih didominasi oleh segmen solder yang menyumbang sekitar 50% dari total konsumsi dunia, terutama untuk industri semikonduktor dan elektronik. Prospek permintaan diperkirakan tetap positif seiring berlanjutnya transformasi digital dan transisi energi global yang mendorong peningkatan investasi pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pusat data (data center), kendaraan listrik (electric vehicle), sistem penyimpanan energi (energy storage), serta infrastruktur kelistrikan.
Perkembangan tersebut diperkirakan akan semakin memperkuat peran timah sebagai bahan baku strategis dalam berbagai aplikasi teknologi modern.
Berdasarkan data CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada semester I-2026 tercatat sebesar 173.536 ton, sementara konsumsi logam timah global mencapai 179.256 ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar timah global masih berada dalam kondisi defisit pasokan (supply deficit), yang diperkirakan menjadi faktor penopang prospek industri timah pada semester II-2026.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.