Detak Media — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 72,3 juta pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 87,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$ 38,6 juta.
Peningkatan kinerja BUMI ditopang oleh beberapa faktor kunci, termasuk pertumbuhan produksi, peningkatan efisiensi dalam kegiatan penambangan, serta pemulihan harga jual rata-rata batu bara. “Perbaikan tersebut juga mendorong ekspansi margin dan peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha,” ungkap manajemen BUMI dalam keterangan resminya pada Jumat (31/7/2026).
Pendapatan perusahaan sepanjang enam bulan pertama 2026 juga mengalami pertumbuhan sebesar 27,9%, naik dari US$ 677,9 juta menjadi US$ 866,8 juta. Mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 111, beban pokok pendapatan BUMI meningkat 26,3% menjadi US$ 720,8 juta dari US$ 570,9 juta. Namun, laba bruto tercatat tumbuh lebih tinggi sebesar 36,3% menjadi US$ 145,9 juta dari US$ 107 juta.
Meskipun beban usaha meningkat 21,4% menjadi US$ 62,8 juta dari US$51,7 juta, laba usaha BUMI melonjak 50,3% menjadi US$ 83,1 juta dibandingkan US$ 55,3 juta pada semester I-2025. Margin usaha BUMI pun meningkat menjadi 9,6% dari sebelumnya 8,2%. Laba sebelum pajak naik sebesar 102,5% menjadi US$ 104,3 juta dari US$ 51,5 juta.
Perusahaan menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan sebesar 27,9% ini mampu menghasilkan kenaikan laba usaha sebesar 50,3% dan laba sebelum pajak sebesar 102,5%. “Perbaikan itu mencerminkan daya ungkit operasional yang kuat selama semester I-2026,” sebut manajemen BUMI.
Lebih lanjut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BUMI melonjak drastis sebesar 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta. Kenaikan ini bahkan melampaui pertumbuhan laba bersih perseroan secara keseluruhan. Menurut perseroan, peningkatan ini juga mencerminkan tambahan kontribusi laba dari aset BUMI di Australia yang belum menjadi bagian dari basis perbandingan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan Batu Bara Tumbuh 11,7%
Dari sisi operasional, produksi batu bara Bumi Resources (BUMI) mengalami kenaikan sebesar 7,1% menjadi 38,5 juta ton pada semester I-2026. Sementara itu, penjualan batu bara tumbuh lebih tinggi sebesar 11,7% menjadi 38,8 juta ton.
Pertumbuhan penjualan yang melampaui produksi ini menunjukkan tingkat permintaan yang tetap kuat. Akibatnya, persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga rata-rata bebas di atas kapal atau free on board (FOB) juga terpantau pulih 2,6% menjadi US$ 62,9 per ton dari US$ 61,3 per ton, yang turut menopang pertumbuhan pendapatan BUMI.
Volume lapisan penutup yang dikupas relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,01% menjadi 290,6 juta bank cubic meter (Mbcm). Pada saat bersamaan, rasio kupasan tanah membaik menjadi 7,5 kali dari 8,1 kali. “Perbaikan rasio kupasan menunjukkan BUMI mampu meningkatkan produksi batu bara tanpa menambah volume pengupasan lapisan penutup secara signifikan. Kondisi tersebut turut mendukung peningkatan efisiensi penambangan dan ekspansi margin usaha,” jelas manajemen BUMI.
Pertahankan Target Penjualan 2026
Bumi Resources (BUMI) optimis mempertahankan panduan volume penjualan batu bara sepanjang 2026 di angka 82-84 juta ton. Perseroan juga memproyeksikan harga rata-rata di kisaran US$ 60–US$ 62 per ton dengan biaya produksi sekitar US$ 42–US$ 44 per ton.
Dengan realisasi penjualan sebanyak 38,8 juta ton pada semester I-2026, perusahaan menilai capaian tersebut setara dengan sekitar setengah dari target penjualan tahunan, sehingga Bumi Resources tetap berada pada jalur yang tepat untuk memenuhi target tahun buku 2026. Harga rata-rata FOB sebesar US$62,9 per ton pada semester I-2026 juga berada di kisaran atas panduan tahunan yang ditetapkan perseroan.
BUMI berkomitmen untuk mempertahankan perbaikan operasional yang telah dicapai sepanjang semester I-2026 dan menjaga disiplin dalam alokasi modal. “Perseroan juga melanjutkan strategi diversifikasi, termasuk mengintegrasikan aset yang baru diakuisisi di Australia, untuk membangun ketahanan jangka panjang terhadap siklus komoditas,” pungkas manajemen BUMI.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.