— JAKARTA – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), perusahaan energi panas bumi yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, mencatat lonjakan laba bersih sebesar 29% pada semester I-2026. Kinerja keuangan yang solid ini menunjukkan pertumbuhan signifikan perseroan di tengah upaya pengembangan energi terbarukan.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Kamis (30/7/2026), BREN berhasil membukukan laba bersih konsolidasian senilai US$106 juta, atau sekitar Rp1,91 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp18.030 per dolar AS. Angka ini merupakan peningkatan substansial dibandingkan US$82,13 juta yang tercatat pada periode yang sama di tahun 2025.

Pendapatan konsolidasian perseroan juga menunjukkan tren positif, meningkat 11,5% dari US$300 juta pada 30 Juni 2025 menjadi US$334 juta pada 30 Juni 2026. Kenaikan kinerja BREN ini didukung oleh performa operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi yang stabil, kontribusi kuat dari segmen pembangkit listrik tenaga angin, serta keberhasilan perseroan dalam mengimplementasikan strategi pertumbuhan yang telah dirancang.

CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian BREN di paruh pertama 2026. Ia menyoroti bahwa portofolio panas bumi perseroan terus memberikan pasokan listrik yang stabil dan andal, sementara segmen angin juga mempertahankan kinerja pembangkitan yang kuat sepanjang periode tersebut.

Penyelesaian proyek retrofit di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu pada awal 2026 menjadi salah satu faktor kunci yang meningkatkan kinerja operasional portofolio panas bumi BREN. Hendra menambahkan bahwa keberhasilan ini mencerminkan ketangguhan operasional dan konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi pertumbuhannya.

Peningkatan kinerja ini tercermin pada pendapatan konsolidasian dan EBITDA perseroan yang tumbuh dua digit. EBITDA tercatat meningkat sebesar 13,1% menjadi US$293 juta, dengan margin EBITDA yang melesat ke angka 87,6%, naik dari 86,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan efisiensi operasional yang semakin membaik.

Secara finansial, BREN terus memperkuat posisinya. Rasio utang bersih terhadap ekuitas (Net Debt-to-Equity) membaik menjadi 1,73x, berbanding dengan 1,87x pada akhir tahun 2025. Dari sisi operasional, perseroan berhasil mempertahankan kinerja yang stabil di seluruh lini portofolio panas buminya.

Setelah menyelesaikan proyek retrofit PLTP Wayang Windu pada kuartal I-2026, total kapasitas terpasang panas bumi BREN kini mencapai 926 MW. Perseroan berencana untuk melanjutkan pengembangan proyek ekspansi utama, termasuk Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, serta retrofit Darajat Unit 3. Proyek-proyek ini diharapkan dapat mendorong total kapasitas terpasang panas bumi BREN melampaui 1 GW pada akhir tahun 2026.

“Ke depan, kami akan fokus menyelesaikan proyek-proyek ekspansi yang telah direncanakan dan memperkuat posisi sebagai salah satu perusahaan energi terbarukan terdepan di Indonesia,” ujar Hendra dalam keterangan resminya, Kamis (30/7/2026).