Detak Media — JAKARTA – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencetak laba bersih pada semester I-2026 yang melampaui ekspektasi. Di tengah kinerja keuangan yang kuat, saham BMRI di lantai bursa justru tergolong sebagai saham mewah dengan harga yang relatif terjangkau.
Bank Mandiri membukukan lonjakan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (profit after tax and minority interest/PATMI) sebesar 24,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada paruh pertama 2026. Angka ini melebihi proyeksi setahun penuh dan konsensus analis.
“Realisasi tersebut berada di atas ekspektasi kami karena telah mencapai 53,8% dari proyeksi setahun penuh dan 53,1% dari konsensus analis,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi dalam risetnya.
Pertumbuhan laba emiten berkode saham BMRI ini ditopang oleh laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) yang meningkat 19,9% yoy. Beban pencadangan kerugian kredit juga tercatat turun sebesar 12,5%.
Penyaluran kredit BMRI tumbuh 18,8% yoy, didorong oleh segmen korporasi dan komersial. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) atau dana nasabah meningkat 17,1%. Dana murah (current accounts savings account/CASA), yang terdiri atas giro dan tabungan, tumbuh 5,69% yoy, meskipun kontribusinya terhadap total DPK mengalami sedikit penurunan.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 4,56%. Angka ini turun 25 basis poin yoy, namun masih sejalan dengan panduan perusahaan untuk tahun 2026 sebesar 4,3%-4,5%.
Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang membaik menjadi 1,01% dari sebelumnya 1,1%. Biaya kredit (cost of credit/CoC) tercatat sebesar 0,61%, masih berada dalam panduan 2026 yang berkisar antara 0,6%-0,8%.
KB Valbury Sekuritas memprediksi pertumbuhan pendapatan non-bunga (non-interest income/non-II), rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR), serta kualitas aset yang terjaga akan terus melindungi pertumbuhan laba Bank Mandiri sepanjang 2026.
Target Harga Saham Menarik
Di lantai bursa, saham BMRI dinilai masih menawarkan titik masuk yang menarik bagi investor. Oleh karena itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BMRI.
Target harga saham BMRI dipatok sebesar Rp 5.660. Target ini ditetapkan berdasarkan metode Gordon Growth Model (GGM), yang menggunakan proyeksi pertumbuhan dividen jangka panjang.
Target harga tersebut setara dengan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali berdasarkan proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BMRI diperdagangkan pada P/B 1,3 kali, yang berarti valuasi sahamnya berada jauh di bawah rata-rata historisnya.
Berdasarkan data dari Stockbit Sekuritas, BMRI merupakan salah satu saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) yang harganya sedang murah. Rasio Price to Earnings (PE) saham BMRI saat ini (trailing twelve months/TTM) mencapai 6,1 kali. Meskipun valuasinya rendah, BMRI tetap memiliki return on equity (ROE) yang baik.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.