Detak Media — PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) atau NI melaporkan kinerja keuangan selama semester I-2026. Laba bersih perusahaan mengalami sedikit penurunan seiring dengan terkoreksinya pendapatan dan penjualan.
Berdasarkan laporan keuangan per Jumat (31/7/2026), emiten jalan tol Grup Salim ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp48,95 miliar pada semester I-2026. Angka ini sedikit melandai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp50,81 miliar.
Laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali juga tercatat mengalami penurunan dari Rp4,33 miliar menjadi Rp4,24 miliar pada semester I-2026. Akibatnya, total laba periode berjalan META di paruh pertama 2026 menjadi Rp55,15 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp53,19 miliar pada semester I-2025.
Penurunan kinerja ini berkaitan erat dengan performa pendapatan dan penjualan yang mengalami kontraksi. Pendapatan usaha dan penjualan menurun dari Rp138 miliar menjadi Rp125 miliar, sementara pendapatan usaha lain merosot menjadi Rp5,77 miliar dari Rp6 miliar pada semester I-2025. Total pendapatan dan penjualan META pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp131,61 miliar, melambat dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp144 miliar.
Kontribusi Positif dari Asosiasi Jalan Tol
Di sisi lain, melalui entitas asosiasinya, PT Margautama Nusantara (MUN) Group, META menunjukkan perkembangan positif di sektor jalan tol. Kinerja operasional dan profitabilitas sejumlah ruas jalan tol mengalami pertumbuhan sepanjang Januari-Juni 2026.
Tren positif ini terjadi di tengah dinamika mobilitas dan kondisi bisnis infrastruktur. Total volume lalu lintas MUN Group tumbuh 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, hingga Juni 2026. Pertumbuhan ini didukung oleh Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) Jalan Tol BSD yang naik 5,6% YoY dan Jalan Tol Makassar yang meningkat 6,2% YoY.
Kinerja positif ini juga tercermin pada pendapatan MUN Group yang mencapai Rp424,1 miliar, naik 7,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Proxy yang relevan untuk menggambarkan kontribusi MUN terhadap kinerja konsolidasi META adalah net income MUN Group, yang menjadi basis penyerapan laba melalui pos equity in net earnings pada laporan keuangan konsolidasi.
Pada semester I-2026, net income MUN Group tumbuh 12% secara year-on-year berkat perbaikan kinerja operasional dan penurunan beban bunga. Laba bersih MUN menjadi indikator penting bagi META, tercermin pada peningkatan equity in net earnings absorption di laporan konsolidasi.
Kontribusi entitas asosiasi menjadi penopang utama profitabilitas META sepanjang semester I-2026, dengan share in net profit of associates tercatat sebesar Rp55,1 miliar, atau melonjak 12% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama merefleksikan kontribusi positif MUN sebagai portofolio jalan tol strategis NI.
Rencana dan Prospek ke Depan
Head of Corporate Communication & CSR PT Nusantara Infrastructure Tbk, Indah D.P. Pertiwi, menyatakan bahwa di tengah dinamika biaya mobilitas, kinerja bisnis jalan tol tetap menunjukkan perkembangan positif. Peningkatan laba operasional dan Net Income MUN Group mencerminkan upaya META dalam menjaga kualitas operasional dan mengoptimalkan kinerja aset.
“Ke depan, kami akan terus menjaga kualitas layanan dan efisiensi operasional agar dapat memberikan nilai yang berkelanjutan bagi pengguna jalan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Indah dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
META juga terus disiplin dalam mengelola keuangan dan struktur permodalan. Dibandingkan posisi 2025, ekuitas NI tumbuh 0,2%, sementara liabilitas menurun 8,5%. Perseroan juga mencatat net cash spending yang lebih rendah, sembari tetap memperhatikan kebutuhan pendanaan operasional.
Pada April 2026, META telah membayarkan sepenuhnya dividen sebesar Rp45,4 miliar pada Juni 2026.
Selain bisnis jalan tol, Nusantara Infrastructure Group juga terus mengembangkan portofolio bisnis pengelolaan air bersih dan energi terbarukan. Pada bisnis air, volume penjualan air SCTK meningkat 3,9% secara year-on-year, didukung penambahan pelanggan baru dan perluasan area penjualan ke kawasan industri baru.
Sementara itu, volume penjualan energi terbarukan terkoreksi 16,4% secara year-on-year, terutama dipengaruhi oleh keterbatasan ketersediaan feedstock pada RPSL, yang menjadi tantangan umum bagi industri sejenis.
“Perseroan akan terus mengoptimalkan kinerja seluruh portofolio bisnis, meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan, serta menerapkan pengelolaan risiko secara prudent untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,” tutup Indah.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.