— JAKARTA – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan pelemahan laba bersih pada semester I-2026, namun prospek saham emiten Grup Salim ini tetap positif. Penurunan laba bersih lebih banyak disebabkan oleh rugi selisih kurs akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara itu, kinerja operasional perseroan menunjukkan pertumbuhan yang melampaui ekspektasi pasar.

Kondisi ini membuat para analis tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham INDF. Mereka menilai fundamental bisnis perseroan tetap solid berkat pertumbuhan penjualan yang berkelanjutan, kenaikan laba operasional, serta perbaikan kinerja segmen Bogasari dan agribisnis. Segmen-segmen ini mampu mengimbangi moderasi pertumbuhan pada segmen Consumer Branded Products (CBP).

Perbedaan signifikan antara pelemahan laba bersih dan perbaikan laba operasional menjadi sorotan utama kinerja semester I-2026. Tekanan pada laba bersih berasal dari faktor non-operasional, yaitu rugi selisih kurs. Di sisi lain, aktivitas usaha inti menunjukkan ketahanan yang baik meskipun dihadapkan pada kenaikan biaya logistik, belanja promosi, dan volatilitas nilai tukar.

Pertumbuhan Kinerja Operasional yang Sehat

Analis Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, menjelaskan bahwa INDF membukukan laba bersih Rp4,7 triliun pada semester I-2026, mengalami penurunan 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Pada kuartal II-2026, laba bersih tercatat Rp1,8 triliun, merosot 43% yoy dan 40% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/qoq). Penurunan ini utamanya disebabkan oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mendekati Rp17.900 per dolar AS pada akhir Juni 2026.

“Secara operasional, kinerja INDF masih relatif solid. Pendapatan bertumbuh dan laba usaha tetap meningkat meski terdilusi kenaikan biaya operasional,” tulis Edi dalam risetnya.

Menurut Edi, laba usaha INDF mencapai Rp11,7 triliun pada semester I-2026, naik 5% yoy. Pada kuartal II-2026, laba usaha meningkat 10% yoy menjadi Rp5,3 triliun. Pencapaian ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan menunjukkan bahwa tekanan terhadap laba bersih lebih banyak bersumber dari fluktuasi nilai tukar dibandingkan penurunan kinerja operasional.

Pendapatan perseroan juga terus menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Penjualan semester I-2026 meningkat 9% yoy, sementara pada kuartal II-2026 tumbuh 12% yoy. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kenaikan penjualan segmen CBP. Namun, lonjakan biaya logistik serta iklan dan promosi menyebabkan pertumbuhan laba segmen tersebut menjadi lebih moderat.

Sebaliknya, segmen Bogasari menjadi motor utama peningkatan profitabilitas. Laba usaha Bogasari melonjak 21% yoy pada semester I-2026 dan naik 18% yoy pada kuartal II-2026. Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan penjualan serta perbaikan margin. Selain itu, aktivitas operasional di Nigeria juga diperkirakan turut mendorong kenaikan keuntungan kurs operasional.

Meskipun demikian, tekanan dari aktivitas pendanaan masih cukup besar. Stockbit mencatat rugi selisih kurs sekitar Rp2,2 triliun sepanjang semester I-2026, yang sebagian besar terjadi pada kuartal II-2026. Kerugian ini terutama berasal dari kewajiban obligasi berdenominasi dolar AS, dan berbalik dibandingkan keuntungan kurs yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja Operasional Lebih Kuat dari Perkiraan

Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, menyampaikan pandangan serupa. Menurut mereka, jika dampak fluktuasi kurs diabaikan, kinerja operasional Indofood justru lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar.

“Laba inti semester I-2026 mencapai Rp6,2 triliun atau tumbuh 6,9% secara tahunan. Realisasi tersebut telah memenuhi 55% estimasi laba setahun penuh, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pencapaian lima tahun sebesar 48%,” tulis keduanya dalam riset.

Indo Premier mencatat, penjualan semester I-2026 yang mencapai Rp65,5 triliun atau naik 9,5% yoy, sesuai dengan ekspektasi pasar. Dari sisi profitabilitas, Bogasari kembali menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan EBIT sebesar 18,3% pada kuartal II-2026. Margin EBIT segmen tersebut meningkat menjadi 9,6%, melampaui kisaran panduan manajemen sebesar 6-8%, setelah perseroan menaikkan harga jual sekitar 2% pada Mei 2026.

Sementara itu, segmen agribisnis membukukan pertumbuhan EBIT 18,7% berkat kenaikan harga crude palm oil (CPO). Secara keseluruhan, EBIT konsolidasian meningkat hampir 10% menjadi Rp5,3 triliun pada kuartal II-2026. Pertumbuhan ini terutama ditopang segmen non-CBP yang mencatat pertumbuhan EBIT 17,4%, jauh lebih tinggi dibandingkan segmen CBP sebesar 6,6%. Kondisi ini mendorong laba inti kuartal II-2026 meningkat menjadi Rp2,9 triliun atau tumbuh 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Rekomendasi Saham INDF

Dengan kinerja operasional yang solid tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi Buy terhadap saham INDF dengan target harga Rp9.300 per saham berdasarkan metode sum of the parts (SOTP). Target harga ini merefleksikan valuasi price to earnings (PE) sekitar 5,9x proyeksi laba 2026.

Pada harga saham Rp7.175 di penutupan perdagangan Senin (3/8/2026), saham INDF masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 29,6%. Saham INDF termasuk dalam kategori saham yang ‘tahan banting’ terhadap berbagai sentimen negatif yang menimpa pasar saham Indonesia. Di saat sebagian besar saham-saham blue chips berguguran akibat sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, saham emiten Grup Salim ini justru menguat 4,43% sejak awal tahun 2026 hingga saat ini (year to date/ytd).