— PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berhasil mencatatkan kinerja finansial yang kuat pada kuartal II-2026, didorong oleh performa impresif di segmen bisnis bijih nikel. Kenaikan margin yang signifikan ini membuat para analis memproyeksikan saham MBMA memiliki potensi kenaikan yang tinggi.

Berdasarkan laporan riset dari Citi, margin penjualan bijih nikel saprolit yang dikelola MBMA melonjak tajam menjadi US$26,7 per ton pada kuartal II-2026, naik drastis dari angka US$4 per ton pada periode sebelumnya. Sementara itu, margin untuk bijih nikel limonit tercatat sebesar US$10,4 per ton.

Peningkatan kinerja operasional ini sejalan dengan lonjakan produksi bijih nikel saprolit MBMA yang naik 142% secara tahunan menjadi 2,9 juta ton. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan produktivitas, utilisasi peralatan yang optimal, serta efisiensi pada jalur pengangkutan (hauling). Penjualan bijih nikel saprolit juga menunjukkan kenaikan substansial sebesar 53%, mencapai 2,3 juta ton.

Citi mencatat bahwa kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM) turut berkontribusi pada lonjakan Harga Jual Rata-rata (ASP) bijih nikel MBMA yang meroket 107% secara kuartalan menjadi US$58,9 per ton. Meskipun biaya tunai (cash cost) naik 31%, margin perseroan tetap terjaga kuat di level US$26,7 per ton.

“Pada saat yang sama, produksi limonit mengalami penurunan 13% secara kuartalan menjadi 4,7 juta ton, sedangkan penjualannya turun 29% menjadi 3,3 juta ton. Fenomena ini tidak lepas dari moderasi dukungan terhadap proyek HPAL,” tulis Citi dalam laporannya, dikutip Selasa (4/8/2026).

Proyek HPAL dan Proyeksi Analis

Secara keseluruhan, Citi menilai kinerja operasional bisnis tambang MBMA tetap solid, terbukti dari lonjakan produksi bijih saprolit. Di segmen bisnis High Pressure Acid Leaching (HPAL), proyek SNLC diproyeksikan akan mulai berproduksi pada semester II-2026.

Citi mengakui bahwa margin bisnis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) sedikit tertekan pada kuartal II lalu. Margin bisnis Nickel Pig Iron (NPI) turun menjadi US$1.981 per ton nikel, sementara nikel matte bahkan mencatatkan angka negatif. Namun, manajemen MBMA memprediksi bahwa segmen bisnis ini akan mengalami pemulihan pada paruh kedua tahun 2026.

Dengan mempertimbangkan prospek positif tersebut, Citi mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham MBMA dengan target harga yang dipatok di level Rp1.000. Potensi keuntungan (cuan) saham ini diperkirakan mencapai 98%, jika merujuk pada harga penutupan saat riset tersebut dibuat, yaitu Rp505.