Detak Media — JAKARTA – Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk (BRPT), Agus Pangestu, membeberkan kinerja keuangan perusahaan selama semester I-2026. Ia menyatakan bahwa pencapaian tersebut diraih di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global yang masih berlangsung.
Dalam laporan yang belum diaudit, Barito Pacific membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 5,68 miliar, EBITDA senilai US$ 1,08 miliar, dan laba bersih setelah pajak sebesar US$ 518 juta pada periode tersebut.
Agus Pangestu, putra dari konglomerat Prajogo Pangestu, menjelaskan bahwa platform bisnis terintegrasi BRPT yang mencakup sektor energi, kimia, dan infrastruktur kembali menunjukkan ketahanan. “Kinerja tersebut ditopang oleh eksekusi operasional yang disiplin, serta meningkatnya kontribusi dari bisnis infrastruktur dan energi terbarukan,” kata Agus dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Ia menambahkan bahwa portofolio usaha yang terdiversifikasi memungkinkan BRPT untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar sembari menciptakan nilai jangka panjang. Stabilitas pendapatan pada semester I-2026 juga didukung oleh kinerja bisnis kilang, integrasi jaringan ritel bahan bakar Esso, serta peningkatan kontribusi dari bisnis energi terbarukan.
BRPT juga mempertahankan fleksibilitas keuangan melalui pengelolaan modal yang disiplin. Rasio utang bersih terhadap ekuitas (net debt to equity) tercatat sehat di level 0,76 kali. Angka ini memberikan ruang yang cukup untuk mendukung berbagai inisiatif ekspansi sekaligus menjaga ketahanan keuangan perusahaan.
Perusahaan mengklaim terus mencatat kemajuan dalam sejumlah inisiatif pertumbuhan strategis. Hal ini termasuk perluasan operasi Chandra Asri (TPIA), pengembangan proyek hilir dan infrastruktur utama, serta pelaksanaan rencana ekspansi panas bumi.
Meskipun ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik masih menjadi tantangan, BRPT menilai bahwa platform bisnis yang terintegrasi, portofolio yang terdiversifikasi, dan disiplin alokasi modal menjadi modal penting untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Hal ini seiring dengan dimulainya operasi komersial dari berbagai investasi yang sedang berjalan.
Dari sisi operasional, peningkatan pendapatan bersih konsolidasi menjadi US$ 5,68 miliar terutama didorong oleh kenaikan pendapatan dari entitas anak Chandra Asri Group yang ditopang kinerja kilang serta integrasi aset ritel ExxonMobil di Singapura. Segmen energi terbarukan juga mencatat pertumbuhan positif dengan peningkatan pendapatan 11,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 334 juta. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan produksi listrik panas bumi pasca-proyek retrofit dan kinerja pembangkit listrik tenaga angin yang lebih kuat.
BRPT membukukan EBITDA sebesar US$ 1,08 miliar, yang didukung oleh margin kilang yang kuat, integrasi bisnis bahan bakar ritel, dan efisiensi biaya berkelanjutan pada segmen energi terbarukan. Sejalan dengan pencapaian operasional tersebut, laba bersih setelah pajak konsolidasi BRPT mencapai US$ 518 juta. Hingga akhir periode, total aset BRPT tercatat sebesar US$ 18,95 miliar, dengan profil likuiditas yang tetap kuat dan rasio net debt to equity stabil di level 0,76 kali.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.