— PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang kuat pada paruh pertama tahun 2026. Di tengah performa solid tersebut, saham emiten perbankan ini terpantau masih menawarkan valuasi yang menarik bagi investor.

Bank Mandiri melaporkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 30,4 triliun sepanjang semester I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 24,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengemukakan bahwa kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, peningkatan pendapatan non-bunga, serta manajemen biaya yang disiplin.

Pendapatan operasional Bank Mandiri mencapai Rp 70,7 triliun pada semester I-2026, tumbuh 10,8% secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung oleh pendapatan bunga bersih yang tetap kuat dan pendapatan non-bunga yang melonjak 14,9% menjadi Rp 22,8 triliun.

Pendapatan berbasis komisi yang bersifat berulang juga menunjukkan peningkatan sebesar 24% secara tahunan. “Kinerja tersebut membantu BMRI mengimbangi tekanan terhadap margin bunga bersih,” ujar Liza dalam risetnya, Minggu (2/8/2026).

Meskipun demikian, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Mandiri tercatat mengalami penurunan menjadi 4,56%. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya imbal hasil kredit dan peningkatan biaya dana.

Menurut Liza, disiplin dalam pengelolaan biaya operasional menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja Bank Mandiri. Beban operasional tercatat turun 1,4% secara tahunan, sementara rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) mengalami perbaikan menjadi 37,9%.

Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) meningkat 19,9% menjadi Rp 43,8 triliun. Penurunan beban pencadangan juga berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan laba bersih perseroan.

“Kondisi tersebut menunjukkan pendapatan inti dan efisiensi operasional masih mampu menahan tekanan terhadap margin,” jelas Liza.

Dari sisi neraca, total kredit yang disalurkan oleh Bank Mandiri mencapai Rp 1.677 triliun pada akhir semester I-2026. Angka ini meningkat 19,2% secara tahunan dan 3,9% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Target Harga Saham BMRI

Kiwoom Sekuritas menggunakan pendekatan gabungan dalam menentukan valuasi saham Bank Mandiri (BMRI), yang mengombinasikan rasio price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM).

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BMRI dengan menetapkan target harga untuk 12 bulan ke depan di level Rp 5.400.

Pada target harga Rp 5.400, saham BMRI diproyeksikan akan diperdagangkan pada P/BV sebesar 1,5 kali untuk tahun 2026. Valuasi ini berada di atas level P/BV rata-rata tiga tahun sebesar 1,35 kali, atau satu standar deviasi di bawahnya.

Rekomendasi beli ini dipertahankan karena fundamental inti BMRI dinilai masih solid, meskipun dihadapkan pada tekanan NIM. Kinerja laba yang kuat, pertumbuhan kredit yang positif, pendapatan non-bunga yang meningkat, dan kualitas aset yang terjaga menjadi penopang utama prospek perseroan.

Namun, investor disarankan untuk tetap mencermati sejumlah potensi risiko. Risiko tersebut meliputi kemungkinan tekanan NIM yang berlanjut, kondisi likuiditas yang semakin ketat, perlambatan pertumbuhan kredit, serta potensi penurunan kualitas aset pada segmen ritel.

Sementara itu, data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa BMRI termasuk dalam kategori saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) yang saat ini diperdagangkan dengan harga diskon. Rasio PE saham BMRI saat ini (trailing twelve months/TTM) tercatat sebesar 6,2 kali. Meskipun tergolong murah, BMRI tetap menawarkan return on equity (ROE) yang baik.