Detak Media — PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 54,07 miliar pada semester I-2026. Kinerja ini merupakan pembalikan signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat rugi bersih Rp 135,61 miliar.
Peningkatan laba ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan neto sebesar 7,6%, mencapai Rp 4,70 triliun dari Rp 4,36 triliun pada semester I-2025. Dari sisi operasional, laba usaha melonjak 111,3% menjadi Rp 152,21 miliar, naik dari Rp 72,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada akhir sesi I perdagangan Rabu (5/8/2026), saham KAEF tercatat naik 1,33% ke level Rp 458. Dari sisi valuasi, rasio price to book value (PBV) KAEF berada di angka 0,88 kali, atau di bawah 1. Rasio PBV merupakan perbandingan harga saham di pasar dengan nilai buku per saham.
Direktur Utama Kimia Farma (Persero), Djagad Prakasa Dwialam, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari penguatan fundamental bisnis melalui transformasi yang konsisten bersama Holding BUMN Farmasi di bawah PT Bio Farma (Persero), serta dukungan dari Danantara Asset Management (DAM).
“KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola. Kinerja positif pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur. Dengan bisnis yang semakin sehat, KAEF memiliki ruang yang lebih kuat untuk mendukung ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan program prioritas nasional,” ujar Djagad dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).
Perbaikan kinerja juga terlihat dari peningkatan efisiensi operasional. Rasio beban usaha terhadap penjualan turun menjadi 33,2% dari sebelumnya 34,2%, menandakan program pengendalian biaya mulai efektif.
Meskipun demikian, Kimia Farma menghadapi tantangan eksternal pada kuartal II-2026. Gejolak geopolitik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas impor, yang memberikan tekanan pada biaya produksi.
Untuk menjaga margin dan keberlanjutan pasokan, perseroan terus melakukan efisiensi lanjutan, memperkuat pengendalian biaya, serta melakukan penyesuaian harga secara selektif pada beberapa produk.
Kimia Farma juga mempercepat transformasi bisnis melalui enam agenda utama: penguatan ketahanan modal kerja, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, perluasan digitalisasi proses bisnis, peningkatan efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan pendalaman sinergi antarentitas dalam Kimia Farma Group.
Transformasi ini bertujuan tidak hanya untuk memperbaiki kinerja keuangan, tetapi juga memperkuat peran Kimia Farma dalam membangun kemandirian industri farmasi nasional.
Salah satu fokus utama perseroan adalah memperkuat produksi bahan baku obat (BBO) di dalam negeri. Kimia Farma mengoptimalkan fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran untuk memproduksi sekitar 50 produk utama, termasuk obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.
Di sektor hulu, Kimia Farma memperkuat peran PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) dalam pengembangan BBO lokal. KFSP telah memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, dengan 18 di antaranya bersertifikat halal.
Perseroan juga mempercepat lokalisasi sejumlah produk prioritas yang sebelumnya bergantung pada impor, sebagai upaya memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.
Di sisi hilir, Kimia Farma mengandalkan jaringan layanan kesehatan yang luas, mencakup lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik, dan lebih dari 60 laboratorium di seluruh Indonesia. Infrastruktur ini melayani sekitar 23 juta peserta BPJS Kesehatan dan mendukung program pemerintah seperti penanganan stunting, eliminasi tuberkulosis (TB), hingga pengembangan layanan kesehatan lansia.
Djagad optimistis bahwa transformasi yang dijalankan bersama Holding BUMN Farmasi dan dukungan Danantara akan memperkuat posisi Kimia Farma sebagai salah satu pilar industri kesehatan nasional.
“Fokus kami tetap pada penguatan bisnis yang sehat, ketersediaan obat, peningkatan layanan kesehatan, serta dukungan terhadap program prioritas nasional,” tutup Djagad.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.