— Miliarder Ken Griffin, pendiri Citadel, salah satu hedge fund terbesar di dunia, kembali menunjukkan peranannya sebagai penyelamat Wall Street. Ia dikenal selalu mengidentifikasi peluang di tengah krisis keuangan dan membawanya dengan kekuatan finansial.

Baru-baru ini, Griffin turun tangan menyelamatkan hedge fund asal California, Situational Awareness, yang terancam bangkrut akibat anjloknya nilai investasi pada saham-saham teknologi kecerdasan buatan (AI). Di tengah rumor pasar mengenai adanya firma keuangan yang kolaps, Griffin mengumpulkan jajaran eksekutif utamanya. Tim Citadel bergegas menganalisis portofolio Situational Awareness yang merosot hingga 67% pada Juli 2026, memaksa firma tersebut melepas sebagian besar dari US$ 16 miliar aset saham publiknya.

Citadel kemudian mengambil alih porsi besar dari portofolio saham tersebut. Langkah cepat ini kembali mengukuhkan reputasi Citadel sebagai hedge fund ulung yang mampu memanfaatkan peluang di tengah kepanikan pasar.

Strategi Penyelamatan Berkelanjutan

Griffin memulai karier perdagangannya dari kamar asramanya di Harvard University dan kini mengelola aset senilai US$ 71 miliar. Aksi penyelamatan seperti ini bukanlah hal baru baginya. Strategi agresif ini telah tercatat dalam sejarah Wall Street:

  • 2001 (Enron): Saat raksasa energi Enron bangkrut, Griffin menyewa pesawat jet untuk mengirim timnya menginterogasi para trader top Enron, yang kemudian menjadi cikal bakal unit komoditas Citadel.
  • 2007 (Sowood Capital & Amaranth): Citadel mengambil alih portofolio Sowood Capital dan Amaranth Advisors yang kolaps akibat kerugian miliaran dolar AS di pasar gas alam.
  • 2021 (Melvin Capital/ GameStop): Saat krisis saham GameStop, Citadel menyuntikkan dana segar sebesar US$ 2,75 miliar bersama Point72 untuk menopang Melvin Capital.

“Saat pasar berada dalam tekanan, keputusan kolektif para pemimpin bisnis, manajer risiko, dan manajer portofolio kami memungkinkan kami memanfaatkan peluang pasar di saat pihak lain justru panik,” ungkap Griffin.

Sosok Karismatik Berharta Triliunan

Lahir pada 1968, Griffin mendirikan Citadel di Chicago pada 1990 dan membangunnya menjadi salah satu dana kelolaan paling menguntungkan di dunia. Forbes mengestimasi kekayaan pribadinya mencapai US$ 52 miliar (sekitar Rp 936 triliun).

Pada 2002, ia juga mendirikan Citadel Securities, perusahaan market maker yang menjadi pilar utama perdagangan saham global. Selain piawai di dunia keuangan, Griffin dikenal sebagai dermawan yang telah mendonasikan lebih dari US$ 2,5 miliar untuk penelitian medis dan pendidikan, serta menjadi donor kunci Partai Republik AS.

Kunci suksesnya terletak pada manajemen risiko yang matang. “Anda tidak akan pernah bisa mengelola portofolio untuk setiap potensi risiko terburuk, namun Anda harus selalu fokus pada skenario terburuk, ‘Apakah saya sanggup menanggung kerugian tersebut?’ Pantau dan jaga eksposur Anda agar kerugian itu tetap dalam batas yang dapat ditoleransi,” tutur Griffin.

Industri hedge fund beroperasi dalam lingkungan berisiko tinggi, di mana pemanfaatan leverage tinggi dapat melipatgandakan keuntungan sekaligus mempercepat kebangkrutan. Sektor AI yang sempat mengalami lonjakan valuasi masif menjadi rentan terhadap koreksi harga. Aksi akuisisi dan dana talangan oleh firma raksasa seperti Citadel menjadi mekanisme penting dalam menjaga stabilitas sistemik pasar modal Wall Street.