Detak Media — JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya meningkatkan produktivitas padi nasional hingga mencapai 10 ton per hektare melalui penerapan teknologi budi daya Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS). Program ini menargetkan cakupan 1 juta hektare lahan pada tahun ini, dengan rencana ekspansi hingga 3 juta hektare pada tahun-tahun berikutnya.
Inovasi budi daya padi berbasis mekanisasi dan teknologi modern ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi usaha tani bagi petani Indonesia.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) Kementan, Amin Nur, menjelaskan bahwa PM-AAS bukanlah teknologi baru, melainkan penyempurnaan dari metode yang sudah sering diterapkan petani. “Melalui PM-AAS, pemerintah berupaya mengungkit produksi padi dengan teknologi modern. Tahun ini kami harapkan penyebarannya bisa mencapai 1 juta ha dan bertahap tahun depan luasnya jadi 3 juta ha,” ujar Amin Nur dalam webinar yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia (PI Persero).
Metode PM-AAS didasarkan pada enam prinsip utama. Pertama, metode tanam benih langsung (tabela) dengan penanaman jajar legowo (jarwo) 6:1 untuk kerapatan barisan tanaman yang optimal. Kedua, efisiensi penggunaan air, pupuk, dan input lainnya secara tepat sasaran. Ketiga, penggunaan mekanisasi pertanian untuk mempercepat dan meningkatkan efisiensi kerja.
Keempat, implementasi berbasis korporasi melalui pengelolaan kolektif dalam satu hamparan. Kelima, pengelolaan budi daya padi secara intensif untuk mencapai hasil maksimal. Keenam, penyesuaian teknologi dengan karakteristik lahan dan agroekosistem setempat (spesifik lokasi). “PM-AAS menghadirkan sistem budi daya padi modern berbasis teknologi, presisi, dan korporasi sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan produksi tapi biaya tidak terlalu besar,” tandasnya.
Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Saptorini, menekankan peran krusial penyuluh pertanian dalam keberhasilan PM-AAS. Penyuluh bertugas menyiapkan calon petani dan calon lokasi (CP-CL) serta mengawal pelaksanaan budi daya di lapangan. “Peran penyuluh pertanian dari mulai persiapan, pelaksanaan, hingga monitoring dan pengawalan kegiatan di lapangan,” katanya.
BPPSDMP Kementan aktif melakukan pendampingan dan pelatihan PM-AAS bagi penyuluh, serta menerbitkan modul pelatihan yang mengacu pada petunjuk teknis dari BRMP. Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, setiap penyuluh pertanian ditargetkan mendampingi 100 hektare lahan di Jawa dan 50 hektare di luar Jawa. “Peran BPPSDMP adalah memastikan implementasi PM-AAS berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak,” ujar Saptorini.
Pupuk dan Benih Cukup untuk Mendukung PM-AAS
Dukungan ketersediaan pupuk dan benih menjadi faktor penting dalam keberhasilan program PM-AAS. SVP Indonesia Agrichemical Research Institute PT Pupuk Indonesia (PI Persero), Gita Bina Nugraha, menyatakan bahwa kapasitas produksi pupuk nasional, termasuk urea dan NPK, sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Total kapasitas produksi pupuk urea mencapai 9,4 juta ton, NPK 4,6 juta ton, dan pupuk lainnya sekitar 0,8 juta ton.
“Kapasitas produksi dan infrastruktur kami siap mendukung program swasembada pangan pemerintah,” ujar Gita. Per tanggal 3 Agustus 2026, stok pupuk bersubsidi tercatat sebanyak 1.076.000 ton, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 36 hari. Selain itu, PI juga menyiapkan stok pupuk nonsubsidi sebanyak 405.880 ton.
PI telah menerapkan sistem terintegrasi melalui aplikasi iPubers untuk memantau realisasi penyaluran pupuk bersubsidi dan mendeteksi risiko keterlambatan distribusi secara tepat. Koordinasi yang baik, sinkronisasi jadwal tanam, serta kesiapan jaringan penerima pupuk menjadi kunci efektivitas program. “Dengan kebutuhan pupuk organik yang bertambah, harus ada pengawalan pemakaian organik yang penggunaannya oleh petani masih jauh di bawah urea dan NPK,” tandasnya.
VP Supply Chain Management PT Sang Hyang Seri (SHS), Dias Agriana, memperkirakan kebutuhan benih padi untuk program PM-AAS pada 2026-2027 mencapai 50.066 ton, dengan estimasi ketersediaan dari SHS di semester II-2026 sekitar 14.063 ton. SHS memiliki unit produksi benih padi di 17 provinsi dan didukung areal produksi seluas 3.162 hektare.
Benih padi yang direkomendasikan dalam PM-AAS harus memiliki ketahanan terhadap rebah, hama, dan penyakit, serta potensi produktivitas tinggi. Beberapa varietas unggul yang direkomendasikan antara lain Inpari 42 Agritan, Inpari 47 WBC, Cakrabuana Agritan, dan Padjajaran Agritan. “Kami berharap ada data CP-CL petani dalam program itu sehingga ada kepastian alokasi, wilayah distribusi, dan jadwal kebutuhan, karena benih tidak bisa diproduksi dalam waktu singkat,” tandas Dias.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.