— PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menggenjot pemanfaatan teknologi canggih guna mendukung implementasi kebijakan zero Over Dimension Over Loading (ODOL) pada tahun 2027. Langkah strategis ini meliputi penambahan perangkat Weight in Motion (WIM) yang dirancang untuk mendeteksi kendaraan angkutan barang yang melanggar ketentuan muatan maupun dimensi.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menjelaskan bahwa dalam dua tahun mendatang, Jasa Marga akan memiliki sembilan perangkat WIM berbasis bridge. Sistem inovatif ini memungkinkan pemantauan kendaraan tanpa mengharuskan mereka mengurangi kecepatan saat melintas di jalan tol.

Weight in Motion yang dimiliki oleh Jasa Marga akan ditambahkan. Di dalam dua tahun yang akan datang, 2027 akan ada sembilan dan ini semua bridge, artinya dengan kecepatan berapa pun bisa termonitor,” ujar Rivan di Museum Angkut, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (4/8/2026).

Rivan menambahkan bahwa sistem WIM akan diintegrasikan dengan kamera dan teknologi lidar. Integrasi ini bertujuan untuk mengukur dimensi kendaraan secara akurat, mengingat pelanggaran ODOL tidak hanya terkait kelebihan muatan, tetapi juga dimensi kendaraan yang melebihi batas yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, Jasa Marga berencana menghubungkan sistem ini dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) serta Bukti Lulus Uji Emisi (BLUe) dari Kementerian Perhubungan. Integrasi ini akan memfasilitasi identifikasi kendaraan beserta informasi perusahaan terkait apabila terindikasi melakukan pelanggaran.

Teknologi serupa telah diuji coba di Jakarta, di mana data kendaraan yang melanggar dapat diverifikasi berdasarkan jenis, golongan, hingga identitas perusahaan. “Jadi tidak hanya memberikan law enforcement (penegakan hukum), tapi mungkin kita akan memberikan edukasi bahwa kami bisa melakukan verifikasi, kami bisa melakukan potret atau identifikasi bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan yang over dimension overload,” jelasnya.

Jasa Marga mencatat bahwa kendaraan golongan II ke atas, meskipun hanya menyumbang sekitar 11% dari total volume kendaraan di jalan tol, berkontribusi terhadap 84% gangguan lalu lintas, termasuk kemacetan dan kecelakaan.

Selain pelanggaran ODOL, Jasa Marga juga menyoroti isu keselamatan lain yang melibatkan kendaraan angkutan barang, seperti rem blong dan kendaraan yang berhenti di bahu jalan yang berpotensi memicu kecelakaan.

Saat ini, uji coba teknologi lidar dan RFID sedang berlangsung di ruas Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 1. Targetnya, sistem ini akan diterapkan di sekitar 97 gerbang tol di Jakarta dan hampir 200 gerbang tol dalam jaringan nasional Jasa Marga Group.

Dengan sistem yang terhubung, kendaraan yang terindikasi melanggar dapat dipantau saat berpindah ruas tol, misalnya truk yang melanggar di Tol Jagorawi dapat terus dipantau hingga ke ruas tol di Semarang melalui data gerbang tol yang dilaluinya.

Rivan menegaskan bahwa seluruh sistem pemantauan akan beroperasi secara real time melalui command center Jasa Marga. Masyarakat juga dapat memantau kondisi lalu lintas melalui aplikasi Travoy yang terhubung dengan sekitar 3.500 kamera di jaringan jalan tol Jasa Marga Group.

“Kami juga bisa mengedukasi kepada masyarakat pemilik kendaraan yang over dimension, overload, bahwa kami bisa melakukan identifikasi terhadap seluruh kegiatan truk yang over dimension maupun overload,” tegasnya.