Detak Media — PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diproyeksikan akan merasakan manfaat dari dua momentum penting yang berpotensi memulihkan margin keuntungannya pada tahun buku 2026. Kedua momentum tersebut berasal dari kebijakan pemerintah yang memangkas kuota impor grand parent stock (GPS) sebesar 22,6% menjadi 535 ribu, serta implementasi program makan bergizi gratis (MBG) yang diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan daging ayam sekitar 0,4 hingga 0,6 juta ton.
Kombinasi pembatasan kuota impor GPS yang menyebabkan ketatnya pasokan day old chick (DOC) dan peningkatan permintaan daging ayam dari program MBG diprediksi akan mengubah struktur pasokan dan permintaan di pasar. Faktor-faktor ini diharapkan menopang pemulihan net profit margin JPFA. Diestimasikan, net profit margin perseroan akan membaik menjadi 6,42% pada 2026 dan 6,46% pada 2027, naik dari 1,82% pada 2023 dan 5,41% pada 2024. Operating profit margin juga diprediksi membaik menjadi 9,64% pada 2026 dan 9,92% pada 2027.
Pendapatan Japfa diproyeksikan menguat dari Rp60,71 triliun pada 2025 menjadi Rp66,30 triliun pada 2026, dan terus naik hingga Rp72,43 triliun pada 2027. Laba kotor diprediksi mencapai Rp13,87 triliun, laba operasional Rp6,39 triliun, dan laba sebelum pajak Rp5,51 triliun pada 2026. Laba bersih JPFA diperkirakan melonjak dari Rp4 triliun pada 2025 menjadi Rp4,25 triliun pada 2026, dan berlanjut menjadi Rp4,67 triliun pada 2027.
Arinda Izzaty, Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp2.970, menawarkan potensi upside 39,44% hingga akhir 2026. “Berdasarkan kalkulasi relative valuation yang kami lakukan, potensi upside diperkirakan sebesar 39,44% hingga akhir tahun 2026 di mana earning per share mencapai Rp366 dan P/E mencapai 8,10x,” papar Arinda.
Perbandingan dengan harga saham JPFA pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026) yang melemah 1,38% ke posisi Rp2.150, target harga Pilarmas menawarkan potensi kenaikan sekitar 38%. Rekomendasi beli ini didukung oleh valuasi saham perseroan yang dinilai cukup murah dengan actual PE 4,9x, di bawah mean PE selama 1 tahun sebesar 7,64x.
Konsumsi Daging Ayam dan Model Bisnis Japfa
Konsumsi daging ayam di Indonesia baru mencapai sekitar 8,6 kg per kapita, jauh di bawah Malaysia dan Vietnam. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan jangka panjang yang besar bagi emiten unggas seperti JPFA, seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Tren konsumsi daging ayam sepanjang 2014-2024 menunjukkan pertumbuhan signifikan yang mengindikasikan permintaan protein hewani bersifat struktural.
JPFA memiliki model bisnis terintegrasi yang mencakup produksi pakan, breeding, commercial farming, hingga produk olahan dan consumer products. Model bisnis ini membuat JPFA tidak bergantung sepenuhnya pada fluktuasi harga ayam hidup. Ekspansi ke segmen produk olahan juga berpotensi meningkatkan margin dan menekan volatilitas laba.
Sebagai produsen pakan dan DOC terbesar kedua di Indonesia, JPFA diuntungkan oleh skala ekonomi jaringan distribusi yang luas, teknologi breeding, sistem biosecurity yang kuat, serta pengadaan bahan baku terpusat. Hal ini memungkinkan perseroan mempertahankan struktur biaya yang kompetitif dan menghadapi siklus pelemahan industri.
“Hal ini sejalan dengan target manajemen untuk meningkatkan pendapatan dua kali lipat dalam lima tahun serta pertumbuhan laba bersih sebesar 10-15% per tahun. Kami juga melihat segmen processed food akan menjadi salah satu mesin pencetak laba berikutnya hal ini dikarenakan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir processed food tumbuh 62% dari sebelumnya Rp10,6 triliun menjadi Rp17,2 triliun,” ujar Arinda.
Sepanjang semester I-2026, JPFA membukukan pendapatan Rp17,7 triliun, naik 23,6% YoY, dengan laba bersih melonjak 157,7% YoY menjadi Rp1,94 triliun. EBITDA tumbuh 105,7% dan operating profit melesat 133,7% YoY. Kinerja impresif ini mencerminkan perbaikan profitabilitas di seluruh segmen utama berkat kontribusi kenaikan volume penjualan DOC dan broiler selama Ramadan, perbaikan bisnis pakan, serta harga jual DOC dan broiler yang relatif stabil.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meskipun berpotensi mengalami perbaikan margin, JPFA tetap menghadapi sejumlah risiko. Kenaikan harga jagung domestik menjadi sekitar Rp6.200/kg dan harga soybean meal (SBM) ke US$334/ton, ditambah potensi kenaikan harga minyak dunia, dapat meningkatkan biaya produksi pakan ternak.
Harga ayam broiler dan DOC yang sempat melonjak pada kuartal I-2026 berisiko mengalami normalisasi permintaan, ditambah masih adanya kelebihan pasokan di Jawa. Rencana peningkatan impor GPS pada 2026 juga berpotensi memicu oversupply pada 2027 jika pertumbuhan pasokan melampaui permintaan domestik, yang dapat mengancam harga DOC, ayam hidup, serta margin bisnis breeding maupun commercial farming.
Program MBG berpotensi tidak memenuhi target jumlah penerima manfaat pada 2026. Jika realisasi program ini lebih rendah dari target, permintaan daging ayam yang diharapkan bertambah justru bisa berkurang, menekan salah satu katalis pertumbuhan industri poultry.
JPFA juga menghadapi risiko nilai tukar karena sebagian besar bahan bakunya diimpor menggunakan dolar AS. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor dan menekan margin perseroan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari proyeksi sekitar 5% pada 2026 juga berpotensi melemahkan daya beli masyarakat, sehingga mengurangi konsumsi protein termasuk daging ayam.
Risiko terakhir datang dari perubahan kebijakan pemerintah, termasuk rencana sentralisasi impor SBM yang masih menimbulkan ketidakpastian terhadap struktur biaya perusahaan meskipun implementasinya ditunda. “Risiko regulasi ini perlu dicermati karena berisiko memengaruhi efisiensi operasional dan daya saing Japfa dalam jangka menengah,” tandas Pilarmas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.