Detak Media — JAKARTA – Memasuki hari kedua penyelenggaraannya, Jakarta IP Market (JIPM) 2026 pada Kamis (30/7) mengagendakan serangkaian konferensi yang berfokus pada pengembangan dan komersialisasi kekayaan intelektual (IP) Indonesia. Acara ini kembali menjadi wadah kolaborasi bagi para kreator, pemilik IP, pelaku industri, brand, hingga calon mitra bisnis.
Berbagai sesi talk show mengangkat topik-topik krusial terkait industri IP, termasuk strategi lisensi dan pengembangan IP pasca-peluncuran. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah “Film as the Licensing Locomotive: Before, During & After the Box Office”. Sesi ini mengupas tuntas posisi film dalam ekosistem lisensi, mulai dari pra-rilis, masa tayang, hingga setelah tidak lagi di bioskop.
Sesi tersebut menghadirkan pembicara seperti Upie Guava (Film Director Guava Production), Rayhan Islamy (General Manager Jakarta Film Commission), Cornelio Sunny (Film Director Sunny Bros), Chris Lie (Chief Executive Officer Caravan Studio), dan Redemptus Rangga (Chief Executive Officer Rangkai.id). Kehadiran sesi ini menegaskan komitmen JIPM untuk memandang IP dari berbagai sudut pandang industri, tidak hanya pada aspek penciptaan, tetapi juga potensi pengembangan dan komersialisasi melalui kerja sama.
Mempertemukan Kreativitas dan Bisnis
Jakarta IP Market 2026 memasuki tahun kedua sebagai platform business-to-business (B2B) yang didedikasikan untuk kekayaan intelektual. JIPM dirancang untuk mempertemukan pemilik IP dengan pihak-pihak yang berpotensi mengembangkan karya menjadi produk, layanan, atau bentuk kolaborasi lainnya. Peserta meliputi kreator, brand, manufaktur, investor, komunitas, hingga pelaku industri kreatif yang dapat berinteraksi melalui pameran, business matching, dan forum diskusi.
Konsep ini sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki kekayaan karya kreatif dengan potensi pengembangan yang besar. Tantangan utamanya bukan hanya pada penciptaan IP, melainkan juga membangun jalur agar IP tersebut dapat menemukan pasar dan mitra yang tepat.
Mochtar Sarman, Chairman Jakarta IP Market, menekankan potensi besar IP sebagai penggerak ekonomi kreatif Indonesia. “Kami percaya intellectual property memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi kreatif Indonesia. Melalui Jakarta IP Market, kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan para kreator dengan brand, investor, manufaktur, dan berbagai mitra strategis agar lebih banyak IP Indonesia dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya saat pembukaan JIPM 2026.
Dukungan serupa disampaikan oleh Suharini Eliawati, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda Provinsi DKI Jakarta. Ia menyatakan, “Jakarta memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi kreatif Indonesia. Melalui Jakarta IP Market, kami berharap semakin banyak intellectual property lokal yang tidak hanya dikenal oleh masyarakat, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk, kolaborasi, dan bisnis yang memiliki daya saing di tingkat regional maupun global. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus mendukung hadirnya ruang-ruang kolaborasi seperti ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif.”
JIPM 2026 tidak hanya berfungsi sebagai ajang perkenalan karya, tetapi juga sebagai titik temu antara ide kreatif dan peluang bisnis. Melalui pameran dan business matching, pemilik IP berkesempatan bertemu dengan calon mitra yang dapat membawa karya mereka ke tahap selanjutnya. Bagi brand, manufaktur, investor, dan pelaku industri lainnya, forum ini menjadi sarana strategis untuk menemukan IP potensial yang siap dikembangkan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.