Detak Media — JAKARTA – Generasi Z kini menjadi salah satu motor penggerak utama kebangkitan industri bioskop global. Seiring dengan semakin banyaknya film Hollywood yang berhasil mencatat pendapatan melampaui US$1 miliar pada tahun 2026, kelompok usia yang berusia antara 14 hingga 29 tahun ini terbukti menjadi salah satu segmen penonton bioskop paling aktif.
Data yang dirilis oleh Rentrak menunjukkan bahwa Gen Z menyumbang hampir 40% dari total penonton bioskop di Amerika Utara sepanjang tahun 2025. Peran signifikan generasi muda ini terlihat jelas dalam performa sejumlah film blockbuster tahun ini. Misalnya, Gen Z berkontribusi sekitar 49% dari penonton pada hari pertama penayangan film “Spider-Man: Brand New Day” dan 30% pada penonton perdana film “The Odyssey”.
Mike Polydoros, CEO PaperAirplane Media, sebuah perusahaan pemasaran bioskop, menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai generasi muda yang akan meninggalkan bioskop dan beralih sepenuhnya ke platform digital ternyata tidak terbukti. “Anggapan mengenai berakhirnya pengalaman menonton di bioskop sekali lagi terlalu dibesar-besarkan,” ujarnya, mengutip laporan dari CNBC.
Menurut Polydoros, meningkatnya pengaruh Gen Z merupakan salah satu faktor krusial yang mendorong pemulihan industri bioskop pasca-terpukul oleh pandemi Covid-19. Tren positif ini tercermin dari kembalinya film-film yang mampu meraih pendapatan global di atas US$1 miliar. Sepanjang tahun 2026, setidaknya empat film telah mencapai angka tersebut, menandai jumlah terbanyak dalam satu tahun sejak pandemi memaksa penutupan bioskop dan penghentian produksi film selama enam tahun.
Film terbaru yang berhasil menembus klub miliaran dolar adalah “Spider-Man: Brand New Day” yang diproduksi oleh Sony dan Marvel. Film ini menyusul kesuksesan “The Super Mario Galaxy Movie” dari Universal, “Michael” dari Lionsgate, serta “Toy Story 5” produksi Disney dan Pixar.
Jumlah film yang berpendapatan lebih dari US$1 miliar diperkirakan masih akan bertambah. Hingga Minggu (09/08/2026), film “The Odyssey” telah mengumpulkan US$912 juta secara global dan masih dijadwalkan tayang hingga pertengahan September. Selain itu, analis box office juga memprediksi bahwa “Dune: Part Three” dari Warner Bros. dan “Avengers: Doomsday” dari Disney serta Marvel berpotensi besar untuk menembus pendapatan US$1 miliar pada tahun ini.
Belum Kembali ke Level Sebelum Pandemi
Meskipun menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat, industri bioskop belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal seperti sebelum pandemi. Pada tahun 2019, sebanyak sembilan film berhasil menghasilkan sedikitnya US$1 miliar di seluruh dunia. Tujuh di antaranya merupakan produksi Disney, sementara dua lainnya adalah “Spider-Man: Far From Home” dan “Joker”.
Shawn Robbins, Direktur Analitik Fandango dan pendiri Box Office Theory, menekankan bahwa pencapaian pendapatan US$1 miliar tetap menjadi tolok ukur penting bagi kesehatan industri film. “Klub miliaran dolar selalu dianggap sebagai pencapaian khusus di box office. Namun, angka tersebut menjadi lebih sulit dicapai sejak pandemi,” jelasnya.
Menurut Robbins, semakin banyaknya film yang mampu melewati ambang batas US$1 miliar dapat menjadi indikator kinerja industri yang kuat dalam satu tahun. Pendapatan box office domestik Amerika Serikat pada tahun 2026 diproyeksikan menembus US$10 miliar untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Hingga awal Agustus, pendapatan sepanjang tahun telah mencapai US$6,2 miliar, namun angka ini masih sekitar 11% lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019.
Tiket Premium Dongkrak Pendapatan
Selain meningkatnya minat dari penonton muda, kenaikan harga tiket juga turut menopang pendapatan film-film blockbuster. Format premium seperti IMAX, Dolby Cinemas, ScreenX, dan 4DX mencatat peningkatan penjualan tiket, didorong oleh kesuksesan film-film besar seperti “Spider-Man: Brand New Day” dan “The Odyssey”.
Data dari EntTelligence menunjukkan bahwa lebih dari 16% tiket yang terjual di pasar domestik AS sepanjang tahun 2025 berasal dari format premium atau premium large format (PLF). Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan 15% pada tahun 2024 dan 13,8% pada tahun 2023.
Harga rata-rata tiket premium di AS mencapai sekitar US$18,22, yang berarti ada kenaikan 8% dibandingkan tahun 2023. Di kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, harga tiket premium bahkan bisa melampaui US$25. Tiket reguler pun mengalami kenaikan harga; harga rata-rata tiket bioskop yang sedikit di atas US$9 pada tahun 2019 kini mendekati US$13,50.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan pendapatan box office tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan jumlah penonton. Namun, tingginya partisipasi Gen Z menegaskan bahwa kelompok muda ini tetap memiliki minat yang kuat terhadap pengalaman menonton film di bioskop. Pemulihan industri bioskop tidak hanya bertumpu pada pasar Amerika Utara, tetapi juga sangat bergantung pada pasar internasional yang memainkan peran besar dalam menentukan keberhasilan film Hollywood.
Dari empat film yang telah meraup lebih dari US$1 miliar pada tahun 2026, lebih dari separuh pendapatannya berasal dari luar Amerika Serikat dan Kanada. Kepala Tren Pasar Rentrak, Paul Dergarabedian, menyatakan bahwa belum pernah ada film yang berhasil menghasilkan lebih dari US$1 miliar hanya dari pasar Amerika Utara. Rekor terdekat masih dipegang oleh “Star Wars: The Force Awakens”, yang meraup US$936,7 juta di kawasan tersebut.
Keberhasilan film-film pada tahun 2026 juga dinilai menunjukkan bahwa pasar tidak hanya terbuka bagi sekuel atau waralaba besar. Deretan film berpendapatan tinggi tahun ini mencakup berbagai genre, mulai dari film biografi musikal hingga adaptasi karya sastra klasik, menandakan keragaman minat penonton yang terus berkembang.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.