— PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) berhasil membukukan pertumbuhan kinerja positif sepanjang semester I-2026. Setelah pengalihan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) yang efektif sejak 1 Januari 2026, InfraNexia mencatat pendapatan senilai Rp 7,7 triliun.

Mayoritas pendapatan tersebut bersumber dari ekosistem Telkom Group. Sisanya, berasal dari pelanggan eksternal yang portofolio bisnisnya dikelola InfraNexia, tercatat tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 939 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, mengatakan pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku industri terhadap infrastruktur yang dikelola InfraNexia. Kepercayaan tersebut datang dari operator telekomunikasi, internet service provider (ISP), penyedia layanan digital, dan pelanggan perusahaan.

“Pertumbuhan pendapatan eksternal dan kinerja positif InfraNexia menunjukkan bahwa proses bisnis yang kami jalankan mulai memperkuat daya saing InfraNexia. Selain memperbesar skala bisnis, fokus kami juga terus memastikan aset dan kapabilitas yang dimiliki dapat dikelola secara lebih produktif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan industri,” kata Lukman dalam keterangan persnya, Rabu (5/8/2026).

Dari sisi portofolio, segmen wholesale network yang mencakup Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 12,7% secara tahunan setelah pengalihan pengelolaan ke InfraNexia. Pertumbuhan ini ditopang oleh permintaan yang konsisten terhadap layanan core network serta kebutuhan kapasitas yang terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas digital.

Sementara itu, segmen FTTx & infrastructure sharing terus memperkuat portofolio bisnis InfraNexia, khususnya dalam mendukung kebutuhan konektivitas dan optimalisasi pemanfaatan infrastructure sharing.

“Melalui portofolio ini, InfraNexia mendorong terbentuknya model penyediaan infrastruktur yang lebih efisien sekaligus membuka ruang kolaborasi yang semakin luas bagi seluruh pelaku industri,” ujar Lukman.

Dari sisi profitabilitas, InfraNexia membukukan margin EBITDA sebesar 54,5% pada semester I-2026. Pencapaian ini didukung oleh penerapan disiplin operasional, optimalisasi biaya, digitalisasi proses bisnis, serta pengelolaan aset yang semakin terintegrasi.

Lukman menjelaskan, semester I-2026 menjadi periode penting bagi InfraNexia dalam membangun fondasi sebagai perusahaan infrastruktur digital yang kuat dan kompetitif. “Capaian ini membuktikan transformasi yang dijalankan mulai memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan efisiensi,” tuturnya.

InfraNexia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan melalui inovasi dan modernisasi network, serta memperluas kolaborasi dengan seluruh pelaku industri. “Dengan disiplin operasional dan eksekusi transformasi yang konsisten, kami berkomitmen menghadirkan infrastruktur digital yang andal, efisien, dan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan,” ucap Lukman.

Spin Off InfraNexia

PT Telkom Indonesia Tbk secara resmi menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity kepada InfraNexia pada awal 2026. Kesepakatan ini merupakan tonggak penting penguatan pilar infrastruktur digital Telkom dan akselerasi strategi transformasi jangka menengah TLKM 30.

Langkah strategis ini menegaskan komitmen Telkom dalam mendukung percepatan pembangunan ekosistem konektivitas digital yang merata di Indonesia. InfraNexia diproyeksikan menjadi penggerak pertumbuhan baru yang memperkuat kinerja perusahaan melalui optimalisasi nilai strategis aset jaringan fiber optik nasional dan peningkatan kualitas layanan infrastruktur digital.

Setelah pengalihan, InfraNexia akan memiliki lebih dari 50% dari total aset infrastruktur jaringan fiber Telkom, meliputi segmen access, aggregation, backbone, serta infrastruktur pendukung lainnya. Nilai transaksi bisnis dan aset pada fase spin-off pertama mencapai Rp 35,8 triliun.

Fase spin-off kedua ditargetkan tuntas sepenuhnya pada tahun 2026 secara transparan, penuh kehati-hatian, dengan itikad baik, dan kepatuhan terhadap hukum.

“Melalui InfraNexia sebagai entitas yang berfokus penuh pada pengelolaan dan pengembangan bisnis infrastruktur fiber, kami dapat mempercepat penetrasi jaringan, meningkatkan tata kelola wholesale business model dan membuka peluang kemitraan strategis yang mendukung pemerataan konektivitas digital nasional secara lebih efisien,” kata Direktur Utama PT Telkom, Dian Siswarini, saat penandatanganan akta pemisahan.

Kinerja Telkom

PT Telkom Indonesia Tbk berhasil membukukan pendapatan konsolidasi Rp 75,9 triliun pada semester I-2026, meningkat 3,9% secara tahunan (yoy). Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 3,8% yoy menjadi Rp 37,5 triliun, dengan margin EBITDA 49,4%.

Laba bersih Telkom tumbuh 1,4% yoy menjadi Rp 10,6 triliun dengan margin 14%. Laba bersih normalisasi emiten berkode saham TLKM ini meningkat lebih tinggi sebesar 6,2% yoy menjadi Rp 11,3 triliun, dengan margin 14,9%. Kinerja ini mencerminkan ketahanan operasional perseroan yang didukung pemulihan bisnis mobile.

Telkom mencatat arus kas operasional sebesar Rp 34,9 triliun atau tumbuh 7% yoy. Pencapaian ini ditopang program efisiensi berkelanjutan dan disiplin pengelolaan biaya.

“Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini,” ungkap Dian.