Detak Media — PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi, melaporkan pendapatan sebesar Rp17,1 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan berhasil menjaga kinerja positif di tengah dinamika industri nikel global yang belum stabil.
Harita Nickel menekankan fokusnya pada efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai terintegrasi, dan penguatan praktik usaha yang bertanggung jawab. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga keandalan produksi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” ujar Suparsin Darmo Liwan, Direktur Keuangan Harita Nickel di Jakarta, kemarin.
Kinerja Harita Nickel didukung oleh disiplin operasional, optimalisasi kapasitas produksi, serta pengelolaan biaya yang berkelanjutan di seluruh lini usahanya. Secara operasional, penjualan bijih nikel mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh beroperasinya fasilitas tambang baru, PT Gane Tambang Sentosa (GTS), sejak kuartal ketiga 2025, serta penambahan lini produksi fasilitas pirometalurgi, PT Karunia Permai Sentosa (KPS).
Penguatan kapasitas tersebut turut mendukung ketersediaan bahan baku dan integrasi operasi Harita Nickel. Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama berkat output yang lebih tinggi dari tambahan lini produksi fasilitas RKEF milik KPS. Sementara itu, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) pada segmen hidrometalurgi dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.
Harita Nickel terus berupaya memperkuat daya saing melalui pengelolaan operasi yang terintegrasi, mencakup seluruh tahapan mulai dari penambangan hingga pengolahan nikel. Optimalisasi kapasitas produksi yang dilakukan secara bertahap di berbagai fasilitas diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas operasional dan keandalan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Selain itu, perusahaan terus menjalankan berbagai inisiatif untuk mendukung praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan memenuhi standar pasar global. Harita Nickel melanjutkan proses Corrective Action Plan sebagai bagian dari evaluasi berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
Dalam proses IRMA, Harita Nickel telah melakukan berbagai studi, memperkuat pelibatan pemangku kepentingan, menyempurnakan sistem pengelolaan lingkungan, serta mempersiapkan audit lanjutan. Perusahaan ini juga menjadi entitas pertama di dunia yang mempublikasikan perkembangan Corrective Action Plan IRMA sebagai wujud transparansi kepada pemangku kepentingan dan pasar. Lebih lanjut, Harita Nickel memastikan penerapan praktik rantai pasok yang bertanggung jawab melalui Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dan RMAP+.
Sepanjang semester pertama 2026, audit lapangan RMAP telah diselesaikan untuk operasi HJF, sementara HPL dan ONC berhasil menyelesaikan proses sertifikasi ulang RMAP. Audit lapangan RMAP+ untuk HPL dan ONC juga telah rampung, dan Perseroan kini menindaklanjuti temuan awal melalui Corrective Action Plan. Upaya ini mendukung keselarasan Harita Nickel dengan berbagai persyaratan ketertelusuran dan uji tuntas di pasar internasional, termasuk regulasi baterai kendaraan listrik di Tiongkok dan Uni Eropa.
Sejalan dengan komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab, Harita Nickel terus mengembangkan inisiatif dekarbonisasi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Salah satu inisiatif tersebut adalah pemanfaatan waste heat recovery, sebuah teknologi yang memanfaatkan panas sisa dari proses produksi di fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan listrik. Energi yang sebelumnya terbuang ini akan dimanfaatkan kembali, mengurangi kebutuhan energi dari sumber lain. Pembangkit listrik berbasis pemanfaatan panas buang ini dirancang memiliki kapasitas hingga 50 MW dan ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2026.
Dalam pengembangan energi terbarukan, proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MW telah mencapai progres konstruksi sebesar 99%. Perseroan juga terus mempersiapkan transisi penggunaan B50 sebagai bagian dari dukungan terhadap program dekarbonisasi pemerintah.
“Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin operasional, mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas yang telah tersedia, serta terus menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab di seluruh rantai nilai. Langkah ini menjadi fondasi kami untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Suparsin.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.