— Nyon – Rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual saham Piala Dunia melalui pembentukan perusahaan komersial baru menuai tentangan keras dari UEFA. Federasi sepak bola Eropa tersebut bahkan mengancam akan melakukan boikot jika proposal ini tetap dijalankan.

Infantino mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan swasta yang akan mengelola turnamen-turnamen besar di bawah FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Meskipun FIFA akan tetap menguasai mayoritas saham, sebagian saham FFE rencananya akan dijual kepada investor. Valuasi perusahaan ini ditaksir mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp362 triliun.

UEFA menilai langkah pembentukan FFE sebagai pengelola Piala Dunia di luar struktur FIFA telah kelewat batas. Dalam pernyataan resminya, UEFA mempertanyakan transparansi keuangan terkait pihak yang akan diuntungkan secara finansial. Menurut UEFA, FIFA tidak memiliki hak untuk menjual saham Piala Dunia.

Menukil laporan Sky News, negara-negara anggota UEFA akan mengadakan pertemuan virtual pekan ini. Agenda utama rapat tersebut adalah mendiskusikan penolakan terhadap rencana FIFA dan mempertimbangkan opsi boikot Piala Dunia apabila Infantino tetap bersikeras dengan rencananya.

Ini bukan kali pertama UEFA berselisih paham dengan FIFA mengenai kebijakan Piala Dunia. Sebelumnya, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, sempat mengutarakan aksi boikot pada final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan FIFA.

Beberapa kebijakan FIFA yang sebelumnya ditolak UEFA antara lain kenaikan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai memberatkan penggemar. UEFA juga menolak penerapan hydration break yang dianggap sebagai celah untuk penambahan iklan, serta mengecam wacana penambahan jumlah tim menjadi 64 peserta untuk Piala Dunia 2030.